Program unggulan Komite Musik Dewan Kesenian Jawa Tengah, Bukan Musik Biasa (BMB), kembali menghadirkan pementasan ke-108 sebagai penutup rangkaian kegiatan seni di pengujung tahun. (Foto: Dok. solotrust.com/Fanissya Suryaningrum)

SOLO, solotrust.com – Program unggulan Komite Musik Dewan Kesenian Jawa Tengah, Bukan Musik Biasa (BMB), kembali menghadirkan pementasan ke-108 sebagai penutup rangkaian kegiatan seni di pengujung tahun. Acara dikemas dalam format Forum Musik & Dialog 1X2 Bulan Ini sukses menarik perhatian publik pecinta musik eksperimental dan kontemporer.

Pentas musik ini menampilkan karya-karya orisinal dari 2 Hari - 4 Grup - 15 Komposer - 70 Musisi, menjadikan BMB sebagai ajang presentasi karya sarat eksplorasi bunyi. Acara ini diselenggarakan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia melalui dukungan dari Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT).

Edisi penutup tahun ini menghadirkan penampil utama dari beragam latar belakang, termasuk The Fragile Team dari Solo dan Masaki Takari dari Yogyakarta. Selain pementasan musik, BMB 108 juga menyajikan diskusi hangat menghadirkan Joko S Gombloh sebagai pembicara dan dipandu Denis Setiaji sebagai moderator.

Diskusi tersebut bertujuan memicu dialog kritis mengenai perkembangan musik baru dan menjadi ruang bagi para musisi untuk membagikan wawasan kreatif mereka. Acara ini berlangsung meriah di Pendopo Wisma Seni TBJT Solo, dimulai tepat pukul 19.30 WIB. Bagi masyarakat yang tak dapat hadir langsung, pertunjukan istimewa ini juga disiarkan secara langsung (Live Youtube) melalui kanal Bukan Musik Biasa dan Taman Budaya Jawa Tengah

Program Bukan Musik Biasa memiliki peran krusial dalam ekosistem musik kontemporer, berfungsi sebagai wadah konsisten bagi para musisi dan komposer untuk menampilkan karya-karya yang mungkin jarang mendapatkan ruang di panggung arus utama. Edisi ke-108 ini menjadi perayaan atas kekayaan inovasi musik yang telah berkembang sepanjang tahun.

Antusiasme juga datang dari para penonton yang hadir langsung. Dian Lestari (24), seorang mahasiswa seni musik dari Semarang, menyatakan energi di Pendopo Wisma Seni TBJT Solo luar biasa.

“Saya benar-benar terkesan dengan keragaman ide yang dibawa oleh 15 komposer ini. BMB bukan sekadar konser, tapi seperti kelas master yang menyenangkan," ucapnya.

Sementara itu, Tulus (48), seorang guru kesenian lokal, menyoroti aspek edukatif acara.

"Saya datang setiap tahun. Acara ini sangat penting karena menunjukkan bahwa musik tidak harus terbatas pada genre yang itu-itu saja. Anak-anak muda butuh melihat bahwa eksplorasi bunyi itu tak berbatas. Ini wadah yang sangat berharga," ungkapnya.

Secara keseluruhan, gelaran Bukan Musik Biasa edisi ke-108 ini kembali menegaskan posisi Solo, khususnya Pendopo Wisma Seni TBJT, sebagai titik penting dalam perkembangan musik eksperimental nasional.

Dengan konsistensi menampilkan eksplorasi bunyi yang segar dan menyediakan ruang dialog konstruktif, BMB tidak hanya menjadi panggung, namun juga menjadi barometer vitalitas kreativitas di kancah musik kontemporer Indonesia. Keberadaan forum semacam ini sangat esensial untuk menjaga denyut nadi inovasi artistik dan memberikan inspirasi berkelanjutan bagi generasi musisi berikutnya.

*) Reporter: Fanissya Suryaningrum/Zulaikhah Nur Istiqomah