Peternakan Bebek Barata Colomadu di Desa Blulukan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar. (dok.istimewa / nasution)

KARANGANYAR, solotrust.com – Merintis bisnis untuk mencari keuntungan adalah hal yang lumrah. Namun, mengubah keuntungan tersebut menjadi ladang amal bagi warga kurang mampu adalah sebuah langkah luar biasa. Hal inilah yang dilakukan Anggit dan suaminya, Ikhsan, pasangan muda asal Desa Blulukan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar.

​Melalui usaha peternakan bebek petelur bernama "Barata", mereka tidak hanya membangun kemandirian ekonomi, tetapi juga menyisihkan sebagian keuntungan untuk membantu warga lansia dan penyandang disabilitas di sekitar mereka.

"kami tidak hanya berpikir soal keuntungan, tapi kami sisihkan telur dan laba untuk warga tidak mampu, dan ini sudah jadi agenda program sosial rutin sejak usaha ini berdiri," ungkap Anggit

​Anggit mengungkapkan bahwa ia memilih sektor peternakan bebek petelur karena konsep bisnisnya yang bersifat harian. Menurutnya, model ini lebih menjanjikan dibandingkan peternakan komoditas bulanan seperti kambing atau lele.

​"Perputaran modal antara biaya pakan dan hasil produksi telur bisa diakumulasikan setiap hari. Usaha ini baru berjalan tiga bulan, sejak momen bulan puasa lalu, dan trennya terus menunjukkan grafik positif," ujar Anggit.

​Memulai langkah dengan 300 ekor bebek, kini peternakan Barata telah berkembang pesat. "Setelah produktivitas telurnya stabil, kami menambah populasi. Saat ini total ada 600 ekor bebek yang dikelola," tambahnya.

​Kesuksesan Barata tidak lepas dari manajemen kandang yang presisi. Anggit menerapkan aturan ketat: satu kandang berukuran 5x5 meter maksimal diisi 75 ekor bebek.

​"Perhitungannya tiga ekor per meter persegi. Ini krusial agar kotoran tidak cepat menumpuk dan kadar amoniak terjaga tetap rendah. Hasilnya, pakan tidak mudah rusak dan produksi telur tetap terjaga," jelasnya.

​Saat ini, tingkat produktivitas telur mencapai 75 persen atau setara 450 butir per hari. Anggit pun optimistis target 80 persen akan segera tercapai.

​Dalam hal pemasaran, Anggit mengambil langkah berani dengan memutus rantai tengkulak. Ia memilih menyuplai langsung ke perajin telur asin dan konsumen akhir (Business-to-Consumer). Dengan harga jual Rp1.800 hingga Rp2.000 per butir, keuntungan yang didapat jauh lebih optimal.

​Hasilnya, pada bulan Mei lalu, peternakan ini berhasil memproduksi 12.000 butir telur dengan omzet mencapai Rp24 juta. Setelah dipotong biaya operasional dan pakan sebesar Rp15-16 juta, keuntungan bersih harian pun mengalir stabil. Dengan kalkulasi ini, Anggit memproyeksikan break-even point (balik modal) akan tercapai dalam lima bulan saja.

​Tak hanya dari telur, keuntungan tambahan akan didapat di akhir periode produktivitas (setelah 1,5 tahun), di mana bebek-bebek tersebut akan dijual sebagai bebek pedaging dengan harga sekitar Rp50.000 per ekor.

​Dalam operasional harian, Anggit dibantu oleh Alyas Pasti Khomeini, pengelola kandang yang telaten. Alyas memastikan kebersihan, pemberian pakan, hingga pengolahan telur asin bagi stok yang tidak langsung terjual.

​Bagi Anggit dan Ikhsan, angka-angka omzet tersebut hanyalah alat. Fokus utama mereka tetap pada nilai kebermanfaatan. Bahwa di balik setiap butir telur yang dihasilkan, ada semangat untuk saling membantu, membuktikan bahwa menolong orang lain sejatinya adalah cara terbaik untuk membantu diri sendiri.

Isteri Ketua DPRD Jateng, Rus S Sumanto menambahkan ia mengapresiasi pasangan generasi milenial ini yang tidak hanya sukses merintis usaha, akan tetapi memiliki kepekaan sosial yang tinggi dengan lingkungan sekitar.

"ini bagus dan semoga jadi inspirasi generasi muda lainya," Imbuhnya. (nas)