Direktorat Penyerasian Pembangunan Sarana dan Prasarana Daerah Tertinggal (PPSP DT) menggelar kegiatan Sharing Session Kreator di Kabupaten Boyolali, Rabu (14/01/2026)
BOYOLALI, solotrust.com – Direktorat Penyerasian Pembangunan Sarana dan Prasarana Daerah Tertinggal (PPSP DT) menginisiasi gerakan kemandirian digital melalui kegiatan Sharing Session Kreator bertajuk Bangun Desa, Bangun Indonesia yang digelar secara offline di Kabupaten Boyolali, Rabu (14/01/2026).
Kegiatan ini menjadi langkah strategis mendorong masyarakat desa bertransformasi dari sekadar konsumen menjadi produsen konten kreatif yang mampu mengangkat potensi lokal ke tingkat nasional.
Direktur PPSP DT, Teguh Hadi Sulistiono, menegaskan pentingnya perubahan cara pandang terhadap desa. Menurutnya, desa harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan yang memiliki kendali atas narasi dan identitasnya sendiri.
“Selama ini desa kerap diposisikan sebagai objek pembangunan. Melalui konten kreatif yang berakar pada budaya lokal, desa bisa membangun kedaulatan ekonomi. Setiap konten adalah aset untuk menggerakkan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dan pariwisata secara mandiri,” ujarnya.
Sharing sessionini tidak hanya berfokus pada pelatihan teknis, namun juga penguatan karakter kreator. Tim Sentir Indonesia membekali peserta dengan materi produksi visual, mulai dari penulisan script, teknik pengambilan gambar, seperti dolly, tilt, dan panning, hingga proses color grading untuk memperkuat pesan visual.
Sementara itu, kreator Roby Iskan mengulas strategi membangun karakter dan identitas kreator di tengah ketatnya persaingan algoritma digital. Ia menekankan karakter dan konsistensi lebih penting daripada sekadar mengejar jumlah penonton.
“Di era sekarang, karakter berada di atas konten. Kreator desa perlu membangun komunitas yang loyal dengan identitas kuat dan berani mengambil posisi,” jelas Roby Iskan.
Melalui kegiatan ini, PPSP DT juga mendorong terbentuknya jejaring kolaborasi antarkreator desa. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperluas distribusi konten, sekaligus menampilkan daerah tertinggal sebagai bagian dari wajah Indonesia modern tanpa meninggalkan kearifan lokal. (jaka)
