Suasana Pasar Hewan Bekonang, Sukoharjo (dok.nas)
SUKOHARJO, solotrust.com – Pasar Hewan Bekonang pada hari pasaran Kliwon adalah dunia yang riuh. Aroma khas ternak, debu yang beterbangan, hingga suara tawar-menawar yang keras menjadi pemandangan biasa. Namun, di tengah dominasi para pria dan hewan-hewan besar itu, kehadiran seorang wanita selalu memicu senyum bagi para pedagang.
Ia adalah drh. Keki Riza Murty. Bagi para "blantik" (makelar sapi) dan peternak di Sukoharjo, sosok dokter hewan dari Dinas Pertanian dan Perikanan ini bukan sekadar petugas pemerintah. Ia adalah tumpuan harapan.
Mengenakan rompi dinas dan sepatu bot, Riza—begitu ia akrab disapa—berjalan lincah di sela-sela deretan sapi yang menghentak-hentak tanah. Ia dikenal sebagai sosok yang tak punya sekat. Ia bisa tertawa lepas dengan pedagang kecil sambil memeriksa kesehatan ternak, tanpa membedakan status sosial.
"Bu Dokter, tolong cek sapi ini, sudah hamil belum?" atau "Bu, apakah sapi ini sudah poel (cukup umur) buat kurban nanti?" Kalimat-kalimat itu seringkali menghentikan langkahnya. Dengan telaten, Riza memeriksa satu per satu. Keahliannya bukan sekadar memeriksa denyut nadi hewan, tapi memberikan rasa tenang bagi pembeli dan kepastian bagi penjual.
Bagi Riza, profesi ini adalah panggilan jiwa yang sudah ia jalani selama 16 tahun. Namun, jangan bayangkan pekerjaannya selalu manis. Menjadi dokter hewan di lapangan berarti siap bertaruh nyawa di bawah kaki-kaki ternak yang beratnya mencapai ratusan kilogram.
Ia punya segudang cerita, mulai dari dikejar sapi yang lepas hingga insiden fisik yang membekas. "Saya pernah di-semplak (disepak) sapi, Mas. Sakit sekali memang, tapi itu tidak pernah membuat saya menyerah atau kapok," kenangnya sambil tertawa kecil.
Baginya, memar di tubuh adalah bagian dari "tanda cinta" dari profesi yang ia cintai.
Hari itu, Riza tidak sendirian. Di sampingnya tampak Michelle, seorang mahasiswi Kedokteran Hewan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang sedang menimba ilmu secara langsung di "laboratorium alam" bernama Pasar Bekonang.
Bagi Michelle, mendampingi Riza adalah pelajaran berharga yang tidak ditemukan di dalam ruang kuliah. "Banyak momen penting di sini yang punya kesan tersendiri. Melihat cara Dokter Riza berkomunikasi dengan masyarakat dan menangani hewan secara langsung itu luar biasa," ungkap Michelle kagum.
Dua perempuan ini, dari generasi berbeda, berdiri di tempat yang sama dengan misi yang serupa: Pengabdian. Di tangan mereka, ilmu kedokteran tidak hanya diam di atas kertas, tapi menyentuh langsung denyut ekonomi dan kebutuhan spiritual masyarakat yang ingin beribadah kurban dengan hewan yang sehat. Keki Riza Murty telah membuktikan bahwa di balik kerasnya pasar hewan, ada sentuhan lembut seorang wanita yang memastikan bahwa setiap hewan kurban yang dibawa pulang masyarakat adalah hewan yang benar-benar layak dan membawa berkah. (nas)
