Dr. Harsini (kanan) membahas super flu: flu biasa atau ancaman baru? dalam podcast Ngobrol Dulu Lah, dipandu host Fajri Satrio, Jumat (09/01/2026). (Dok. YouTube TATV Streaming)
SOLO, solotrust.com - Belakangan ini, masyarakat mengeluhkan serangan flu yang terasa lebih ‘ganas’ dari biasanya. Durasi sakit lebih lama disertai nyeri sendi hebat memicu istilah Super Flu. Fenomena ini dibedah secara mendalam dalam podcast Ngobrol Dulu Lah bersama narasumber dr. Harsini, Sp. P(K) dipandu Host Fajri Satrio, Jumat (09/01/2026).
Penyebab dan Gejala
Meskipun istilah super flu terdengar mengancam, dr. Harsini menekankan secara medis penyebabnya tetaplah virus Influenza. Perbedaanya terletak pada manifestasi klinis yang dirasakan pasien.
“Gejala kini lebih menonjol, pasien sering mengeluhkan demam tinggi tak kunjung turun, nyeri sendi hebat, serta masa pemulihan yang molor hingga lebih dari satu minggu,” jelas dr. Harsini saat ditanya Host Fajri Satrio.
Menurutnya, ada beberapa faktor menyebabkan flu saat ini terasa lebih parah. Salah satunya mutasi virus Influenza yang memang terjadi setiap tahun. Selain itu, terdapat fenomena disebut immunity gap atau kesenjangan imunitas.
“Selama pandemi, kita disiplin menggunakan masker sehingga tubuh jarang terpapar virus flu. Ketika masker mulai dilepas, sistem imun seperti ‘kaget’ saat kembali bertemu virus,” terang dr. Harsini.
"Faktor lingkungan dan polusi udara juga turut memperberat kerja saluran pernapasan," tambah dia.
Mengapa flu sekarang lebih ‘menyiksa?’ Ada alasan medis di balik mengapa tubuh manusia saat ini lebih rentan tumbang.
Dr. Harsini menyoroti fenomena immunity gap atau celah imunitas yang terbentuk pascapandemi Covid 19. Selama dua tahun lebih masyarakat disiplin menggunakan masker, sistem imun praktis terlindungi dan jarang berinteraksi dengan virus flu biasa.
“Saat masker mulai dilepas, sistem imun kita seperti kaget bertemu virus lagi. Selain itu, faktor cuaca pancaroba dan polusi udara turut memperberat kerja saluran napas kita”, terang dr. Harsini.
"Hal inilah menyebabkan virus influenza yang biasanya ringan, kini memberikan dampak lebih signifikan pada fisik," imbuhnya.
Dr. Harsini mengingatkan, flu disebabkan virus, bukan bakteri.
Penggunaan antibiotik sembarangan tidak akan melawan flu, justru memicu resistensi bakteri di masa depan,” tegasnya.
Upaya Pencegahan di Masa Pancaroba
Dr Harsini menyarankan, jika dalam tiga hari kondisi tidak membaik, masyarakat tak perlu ragu untuk segera mencari bantuan medis profesional. Sementara untuk menghadapi kondisi cuaca tidak menentu, dr. Harsini membagikan strategi perlindungan diri efektif.
"Cukupi nutrisi dan hidrasi. Jangan tunggu haus baru minum, kemudian vaksinasi Influenza tahunan itu sangat membantu meringankan gejala jika kita terinfeksi. Terakhir, etika batuk dan pakai masker jika sedang tidak enak badan adalah bentuk tanggung jawab kita kepada orang lain,” imbaunya.
Dr. Harsini menekankan, kewaspadaan adalah kunci. Meski super flu bukan merupakan pandemi baru, dampaknya terhadap produktivitas dan kesehatan paru tak boleh diremehkan, terutama bagi kelompok rentan. (Zahra Pangesti/Anastasya Zefanya/Arien Gita)
