Cincau hitam hasil produksi Tria dikemas dalam kaleng untuk dipasarkan. (Foto: Dok. solotrust.com/Ade Dama
KLATEN, solotrust.com - Cincau hitam merupakan salah satu di antara menu biasa dikonsumsi saat berbuka puasa. Cincau hitam umumnya dipotong dadu atau diserut kemudian dicampurkan ke dalam potongan buah atau bahan minuman lainnya.
Di Kabupaten Klaten, tepatnya Desa Kwarasan, ada usaha rumahan yang sudah 19 tahun lamanya memproduksi cincau hitam. Usaha milik Tria ini berawal dari menjual bahan mentah cincau hitam.
"Awalnya penjual bahan mentah untuk dikirim ke Tangerang, Jakarta, Sumatra, lalu kami coba masak dan akhirnya bisa," ungkapnya, saat ditemui solotrust.com, Selasa (08/08/2023).
Adapun bahan digunakan untuk membuat cincau hitam, yakni daun cincau, tepung tapioka atau pati, dan air.
Tria menjelaskan, cara pembuatan cincau hitam ini dimulai dari merebus daun cincau selama satu jam. Setelah proses perebusan daun cincau, selanjutnya dilakukan penyaringan.
"Setelah disaring, lalu naik ke atas dulu, ke penampungan habis itu turun ke bawah, proses pengadukan," jelasnya.
Proses pengadukan, yakni pencampuran sari daun cincau dengan bahan baku tepung tapioka. Setelah proses tersebut, tahap selanjutnya dicetak di kaleng-kaleng lalu didiamkan hingga menjadi cincau hitam. Biasanya dalam dua hari atau tiga hari sekali, Tria bisa memproduksi sekira seratus kaleng cincau hitam.
"Kalau puasa kami bisa ngeluarin seribu kaleng cincau hitam," ungkapnya.
Dalam proses produksi cincau hitam, Tria dibantu dua karyawan sebagai sopir dan juru masak.
"Kalau puasa karyawannya banyak, masaknya 24 jam, jadi butuh 30 orang, " sebutnya.
Satu kaleng cincau hitam dijual dengan harga Rp50 ribu. Dalam pemasarannya, Tria mengaku bisa meraup omzet sekira Rp1,5 juta hingga Rp2 juta setiap hari.
Kendati pendapatan cukup menggiurkan, namun dalam proses produksinya bukan berarti tanpa kendala. Salah satu problemanya, yakni saat mati listrik.
"Kalau mati listrik, hancur masakannya karena sudah terlanjur tepungnya dicampur, jadi menggumpal. Terus nantinya nggak bisa dipotong, jadi dibuang," terang Tria.
*) Reporter: Ade Dama dan Nadia Rahma
