Ilustrasi (Foto: Pixabay/Geralt)
JAKARTA, solotrust.com - Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin memastikan pemerintah terus memantau secara ketat kontak erat kasus Hantavirus di wilayah DKI Jakarta. Kendati sempat menjadi perhatian publik, pihaknya menegaskan virus ini tak mudah menular antarmanusia seperti Covid-19.
“Kita akan pantau sampai benar-benar yakin dan bisa dipastikan bahwa yang bersangkutan sudah aman,” kata Menkes Budi dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (13/05/2026), dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI, kemkes.go.id.
Menkes menjelaskan, kasus sedang ditangani berasal dari kontak erat seorang WNA yang sempat berada di kapal luar negeri. Pemerintah bergerak cepat setelah menerima informasi dari otoritas kesehatan Inggris pada 7 Mei 2026. Sehari berselang, pada 8 Mei, pasien berhasil diidentifikasi dan segera dievakuasi ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof Dr Sulianti Saroso untuk menjalani isolasi.
“Indonesia sejak pandemi Covid-19 sudah jauh lebih baik dalam hal surveilans dan kerja sama internasionalnya,” tambahnya.
Adapun hingga saat ini, hasil pemeriksaan terhadap seluruh kontak erat menunjukkan hasil negatif, namun pasien tetap diisolasi guna melewati masa inkubasi. Pemerintah menetapkan masa pemantauan selama dua pekan terhitung sejak 8 Mei 2026.
Pada kesempatan sama, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2), Andi Saguni, menjelaskan alasan pemilihan RSPI Sulianti Saroso sebagai lokasi isolasi.
“Karena itu rumah sakit khusus infeksi, sehingga kita bisa benar-benar fokus menangani pasiennya,” bilang dia.
Andi Saguni menambahkan, meski rekomendasi WHO memperbolehkan karantina mandiri, pemerintah memilih isolasi di fasilitas kesehatan sebagai langkah kehati-hatian (precautionary measures).
Secara klinis, penyakit disebabkan Orthohantavirus ini umumnya menular melalui kontak dengan hewan pengerat seperti tikus dan curut, baik melalui gigitan maupun paparan cairan tubuh (air liur, urin, feses).
Terdapat dua jenis manifestasi klinis utama, yakni Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) menyerang ginjal dengan masa inkubasi satu hingga dua pekan, serta Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru. Adapun hingga saat ini, belum ada pengobatan spesifik untuk Hantavirus sehingga penanganan dilakukan secara simtomatis dan suportif berdasarkan gejala yang muncul.
Menkes Budi menyebut, varian Hantavirus beredar di Indonesia berasal dari varian Asia dengan tingkat kematian (case fatality rate) antara lima hingga 15 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibanding varian Andes di Amerika Selatan yang menyerang paru-paru dengan risiko kematian mencapai 50 hingga 60 persen.
“99 persen penularan Hantavirus terjadi melalui tikus, bukan antarmanusia,” tegasnya.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tetap menjaga kebersihan lingkungan, terutama dalam mencegah perkembangbiakan tikus di rumah, rumah makan, maupun tempat kerja.
