Seorang wisatawan memetik jambu air di Kampung Jambu Air, Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo
SUKOHARJO, solotrust.com - Saat sebagian petani lain cemas menghadapi musim kemarau panjang, para petani di Desa Pranan, Sukoharjo, justru sumringah. Berkah kemarau membuat panen jambu air melimpah ruah setiap hari dengan omzet menggiurkan.
Ketika Kemarau Bukan Lagi Ancaman
​Musim kemarau sering kali menjadi momok bagi sektor pertanian. Namun, anggapan itu tak berlaku bagi warga Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo.
​Di tengah teriknya cuaca kemarau panjang, desa yang dijuluki sebagai Kampung Jambu Air ini justru tengah panen raya. Bagi warga setempat, musim kemarau adalah momen paling dinanti untuk menangguk rezeki berlimpah dari pekarangan dan lahan pertanian mereka.
​'Panen Abadi' Setiap Hari hingga Akhir Tahun
​Hampir seluruh sudut Desa Pranan dipenuhi pohon jambu air, baik yang ditanam di pekarangan rumah maupun dibudidayakan secara khusus di lahan pertanian.
​Kepala Desa Pranan, Sarjanto, memaparkan potensi ekonomi di desanya sangat luar biasa. Saat ini, tercatat ada sekira 4.000 hingga 6.000 batang pohon jambu air menjadi tulang punggung perekonomian warga. Berkat konsistensi dalam budidaya buah segar ini, Pranan resmi dikukuhkan sebagai desa wisata oleh Pemerintah Kabupaten Sukoharjo pada awal Juli lalu.

​"Desa Pranan ditetapkan sebagai desa wisata berkat budidaya jambu air yang menjadi potensi unggulan desa," kata Sarjanto penuh bangga.
​Status baru sebagai desa wisata langsung menarik minat pelancong dari luar daerah. Salah satunya Rafael Tiara Prasetya (Nana), pengunjung asal Magelang yang sengaja datang demi merasakan pengalaman langsung memetik buah segar dari batangnya. ​Karena tinggi pohon relatif rendah, pengunjung bisa dengan mudah memetik buah menggunakan tangan kosong.
​"Seru sekali karena pengunjung bisa memetik langsung jambu air dari pohonnya dan langsung dimakan. Rasanya manis, dagingnya tebal, dan kandungan airnya cukup banyak. Sangat cocok sebagai pelepas dahaga saat siang bolong," kesan Nana.
Camat Polokarto, Heri Wahyu Cahyono, mengapresiasi ketahanan ekonomi warga Desa Pranan yang mampu memanfaatkan momentum cuaca secara maksimal.
"Selain itu keberadaan kebun jambu ini memperkuat Desa Pranan sebagai desa wisata di Polokarto," tandasnya.

Senada dengan camat Polokarto, Humas Desa Wisata Desa Pranan, Lintang Suminar menambahkan, wisata petik jambu air ini mungkin pertama di Sukoharjo. Keunggulan jambu air Pranan terletak pada masa panennya jauh lebih panjang dibanding tanaman buah lain. Puncak panen raya berlangsung pada Juni hingga Agustus.
"Petani juga tetap bisa memanennya setiap hari hingga November atau Desember," jelasnya.
​Selama musim kemarau, setiap petani mampu menghasilkan panen berkisar antara 200 kilogram hingga dua ton.
"Di tingkat petani, harga jambu air dipatok sekitar Rp10.000/kilogram. Angka ini melonjak hingga Rp15.000/kilogram di tingkat pengecer, bahkan bisa menembus di atas Rp20.000/kilogram jika sudah dipasarkan ke luar Pulau Jawa," terang Lintang Suminar.
Tak hanya dari Soloraya, saat musim jambu seperti ini banyak pengunjung datang dari luar kota, seperti Semarang Yogyakarta, dan Magelang.
"Desa Pranan kini bertransformasi menjadi destinasi desa wisata, tempat pelesiran favorit yang tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyejahterakan para petani lokal Desa Pranan," tutup Lintang Suminar. (nas)
