Seni pertunjukan tari, Pentas Triwulan Catha Ambya 8 yang diselenggarakan Himaswariska, Kamis (04/12/2025). (Foto: Dok. solotrust.com/Fanissya Suryaningrum)
SOLO, solotrust.com - Ribuan pasang mata menjadi saksi gelaran akbar seni pertunjukan tari, Pentas Triwulan Catha Ambya 8, diselenggarakan Himaswariska, Kamis (04/12/2025). Pergelaran mengusung tema besar Tubuh-Tubuh Nusantara ini dihelat dalam dua sesi, di mana pertunjukan utama diselenggarakan di Teater Besar.
Pentas Triwulan Catha Ambya 8 merupakan agenda rutin tahunan menampilkan karya-karya tari kontemporer, tradisi baru, dan eksperimental dari para seniman muda berbakat. Sesi sore diselenggarakan di Teater Besar menyajikan sepuluh karya tari memukau.
Berbeda dengan karya tradisional terikat pakem, karya-karya sesi sore banyak menyoroti isu-isu sosial, psikologis, dan interpretasi ulang terhadap konsep gerakan. Karya ditampilkan meliputi karya tari RedLine, Papingan, A-Lir, Displaced, Rangkul, dan Real Sacrifice.
Acara ini diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Seni Pertunjukan (Himaswariska), menjadikannya panggung bagi para mahasiswa dan seniman muda untuk mempresentasikan gagasan kreatif mereka.
Pertunjukan ini dihadiri berbagai kalangan, mulai dari akademisi, budayawan, penikmat seni, hingga masyarakat umum yang antusias menyaksikan perkembangan seni tari kontemporer di Kota Solo.
Sesi yang menjadi sorotan dan dihadiri penonton dimulai tepat pukul 16.00 WIB dan berlangsung hingga petang. Waktu sore dipilih untuk memberikan suasana berbeda, membuka ruang interpretasi gerak dan pencahayaan dramatis bagi karya-karya ditampilkan, sesuai kebutuhan teknis tari kontemporer.
Sesi Sore Teater Besar diselenggarakan di Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Lokasi ini dipilih untuk mendukung kebutuhan teknis dari karya-karya tari kontemporer sarat dengan visualisasi artistik dan penataan ruang dinamis, memberikan pengalaman maksimal bagi penonton.
Tujuan utama dari Pentas Triwulan Catha Ambya 8 adalah memberikan wadah ekspresi dan evaluasi berkala bagi proses kreatif seniman muda. Mengusung tema 'Tubuh-Tubuh Nusantara,' pertunjukan ini secara khusus mencoba menggali dan merefleksikan kembali makna tubuh dalam konteks budaya Indonesia modern, mendorong adanya pembaharuan bentuk dan makna dalam seni tari yang relevan dengan perkembangan zaman.
Sesi sore dibuka tepat pukul 16.00 WIB dengan penampilan karya pembuka. Setiap karya disajikan secara berurutan, didukung tata musik dan tata cahaya berfungsi sebagai elemen naratif yang kuat.
Penonton disuguhi eksplorasi gerak intens dan penuh makna. Reaksi penonton tampak sangat positif. Adapun untuk mendapatkan perspektif berimbang, solotrust.com berkesempatan mewawancarai dua penonton yang hadir.
Reza Prawira, seorang mahasiswa seni rupa, mengungkapkan kekagumannya terhadap keberanian para penari.
"Secara visual, pertunjukan sesi sore ini sangat berani dan jujur. Saya paling terkesan dengan karya berjudul 'Displaced'. Gerakan-gerakannya tidak hanya indah, tetapi juga memicu pertanyaan. Ini adalah pernyataan artistik yang kuat," kata Reza Prawira.
Sementara itu, Siti Fatimah, seorang guru kesenian, memberikan pandangan dari kacamata edukasi.
"Saya melihat adanya kematangan ide yang luar biasa dari anak-anak muda ini, terutama dalam menggabungkan elemen tradisional dengan narasi kontemporer. Karya 'Free in Line' menunjukkan bahwa kebebasan berekspresi tetap bisa dicapai tanpa melupakan esensi kehalusan gerak," ungkapnya.
Pentas Triwulan Catha Ambya 8 dinilai berhasil menghadirkan dialog mendalam antara tubuh penari dengan isu-isu yang mereka representasikan, membuktikan seni tari kontemporer di Kota Solo dan Indonesia terus berkembang dan relevan.
*) Reporter: Fanissya Suryaningrum/Zulaikhah Nur Istiqomah
