Bangunan Pringgitan yang berada tepat di belakang Pendhapa Ageng.

SOLO, solotrust.com- Pura Mangkunegaran menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang wajib dikunjungi saat berada di Kota Solo. Berlokasi di Jalan Ronggowarsito, Keprabon, Kecamatan Banjarsari, kawasan ini menawarkan pengalaman wisata yang memadukan arsitektur khas Jawa dan berbagai koleksi budaya yang dapat dinikmati oleh wisatawan.

Didirikan pada tahun 1757 oleh K.G.P.A.A. Mangkunegara I, Pura Mangkunegaran kini dibuka untuk umum melalui program tur yang dipandu oleh pemandu wisata. Wisatawan domestik dikenakan tarif masuk sebesar Rp30.000, sedangkan wisatawan mancanegara sebesar Rp50.000. Sebelum mengikuti tur, pengunjung diwajibkan mematuhi ketentuan berpakaian, seperti tidak mengenakan batik bermotif parang atau lereng, kain beludru, celana pendek, maupun pakaian yang terlalu terbuka.

Salah satu daya tarik utama di kompleks Pura Mangkunegaran adalah Pendhapa Ageng, yang dikenal sebagai pendhapa terbesar di Asia dengan 108 pilar atau cagak  (tiang) penyangga. Sebelum memasuki area pendhapa, seluruh pengunjung diwajibkan melepas alas kaki dan menyimpannya di tempat yang telah disediakan.

Selaku pemandu wisata Pura Mangkunegaran, Dewi mengatakan, empat tiang utama yang ada di pendhapa tersebut memiliki mitos tersendiri. Menurutnya, siapa saja yang bisa memeluk tiang utama sampai kedua tangannya saling bersentuhan, maka permintaanya akan terkabul.

“Mitosnya, kalau bisa memeluk cagak dan tanganya sampai bersentuhan maka permintaanya dapat dituruti, tapi kalau sekarang sudah tidak bisa, karena sebelumnya sudah banyak yang memeluk dan membuat catnya luntur,” ujar pemandu wanita itu

Tepat di belakang Pendhapa Ageng, berdiri bangunan Pringgitan. Ruangan ini pada zaman dahulu menjadi tempat pementasan wayang kulit, dan sekarang difungsikan sebagai tempat menerima tamu kehormatan serta digunakan sebagai Tingalan Wiyosan Jumenengan (peringatan ulang tahun kenaikan tahta raja). Di dalam Pringgitan terdapat Krobongan (tempat tidur berkelambu) yang digunakan oleh Raja untuk bermeditasi pada malam satu Sura.

Di sisi timur kompleks Pura Mangkunegaran terdapat Bale Peni yang kini menjadi area privat sekaligus kediaman K.G.P.A.A. Mangkunegara X, sehingga tidak dibuka untuk umum. Sementara itu, Bale Warni di sisi barat difungsikan sebagai area umum yang dapat diakses dalam rangkaian tur.

Menurut penjelasan pemandu wisata, pada masa pemerintahan K.G.P.A.A. Mangkunegara IV, Bale Peni dan Bale Warni dibangun sebagai kompleks hunian keluarga istana. Bale Peni diperuntukkan sebagai tempat tinggal para putra raja, sedangkan Bale Warni menjadi tempat tinggal putri dan permaisuri. Kedua bangunan tersebut digunakan sebagai tempat tinggal para anggota keluarga istana.

Di sebelah barat Bale warni terdapat area ruang makan Keluarga Pura Mangkunegaran, dengan perpaduan desain Eropa, Jawa, dan Bali. Dalam ruang makan terdapat cermin di area langit-langit yang pada zaman dahulu digunakan untuk cctv alami untuk melihat apakah makanan yang disajikan sudah lengkap dan sudah habis.

Dengan beragam daya tarik yang dimiliki, mulai dari Pendhapa Ageng, Pringgitan, hingga bangunan-bangunan bersejarah lainnya, Pura Mangkunegaran menawarkan pengalaman wisata budaya yang berbeda di Kota Solo. Destinasi ini menjadi pilihan tepat bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan arsitektur sekaligus mengenal lebih dekat tradisi yang masih lestari hingga kini.

(Penulis: Dian, Intan, Rieke)