Ilustrasi (Foto: Pixabay/Parkineer)

SOLO, solotrust.com – Virus Nipah kembali menjadi perbincangan publik setelah kasusnya mencuat di India. Meski belum ditemukan di Indonesia, kewaspadaan dini dinilai penting guna mencegah potensi penyebaran.

Dokter spesialis paru RSUD Dr. Moewardi Solo, Jatu Apridasari, menjelaskan virus ini bukanlah virus baru. Nipah kali pertama teridentifikasi di Malaysia pada 1998 dan menyebar terbatas ke Singapura serta beberapa negara Asia Tenggara.

“Virus ini bersifat zoonosis, artinya berasal dari hewan, terutama kelelawar sebagai reservoir alaminya. Penularan bisa terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi atau produk yang terkontaminasi,” jelasnya.

Berbeda dengan Covid-19, kata Jatu Apridasari, Nipah tidak mudah menular tanpa kontak erat. Kendati demikian, tingkat kematiannya jauh lebih tinggi, bahkan dapat mencapai 70 persen pada manusia. Virus ini menyerang sistem saraf, pembuluh darah, dan paru-paru.

Gejala awal biasanya berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, kemudian dapat berkembang menjadi kejang hingga penurunan kesadaran. Masa inkubasi berkisar antara empat hingga 14 hari, bahkan dalam kasus tertentu bisa mencapai 45 hari.

Menurut Jatu Apridasari, masyarakat tak perlu panik, namun harus meningkatkan kewaspadaan. Ia mengimbau agar tidak mengonsumsi buah yang telah tergigit hewan, memastikan makanan matang sempurna, serta menjaga kebersihan diri.

“Kita sudah belajar banyak dari pandemi Covid-19. Rumah sakit memiliki ruang isolasi dan sistem deteksi PCR untuk memastikan diagnosis. Adapun yang terpenting sekarang adalah menjaga imunitas dan tidak mudah percaya informasi belum terverifikasi,” tegas Jatu Apridasari.

Pihaknya juga menambahkan, penggunaan masker tetap disarankan di ruang tertutup dan saat kondisi tubuh tidak fit.

“Tidak perlu takut berlebihan. Kuncinya adalah waspada, menjaga kebersihan, dan memperkuat daya tahan tubuh,” tutup Jatu Apridasari. (Zahra Pangestining Tyas)