Wakil Wali Kota (Wawali) Solo Astrid Widayani melihat benda bersejarah koleksi Museum Radya Pustaka di sela acara Afternoon Tea in Museum, Jumat (28/11/2025) sore

SOLO, solotrust.com - Wakil Wali Kota (Wawali) Solo Astrid Widayani membuka kegiatan sosialisasi museum bertajuk Afternoon Tea in Museum, diselenggarakan di Museum Radya Pustaka, Jumat (28/11/2025) sore. Acara ini turut dihadiri Kepala Museum Jawa Tengah Ranggawarsito Sugiharto, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Manggar Sari Ayuati, serta para budayawan dan kurator.

Dalam kesempatan itu, Astrid Widayani menekankan pentingnya revitalisasi museum, dari sekadar tempat penyimpanan artefak menjadi ruang perjumpaan budaya yang hidup, dinamis, dan relevan bagi generasi muda.

Radya Pustaka berdiri sejak 1890 merupakan museum tertua di Indonesia. Berlokasi di Jalan Slamet Riyadi, museum ini menyimpan berbagai koleksi bersejarah, mulai dari naskah kuno, arca, pusaka adat, wayang, hingga literatur penting yang menjadi rujukan budaya Jawa dan Nusantara.

Dalam sambutannya, Astrid Widayani menegaskan posisi strategis Radya Pustaka sebagai penjaga identitas dan spiritualitas Kota Solo. Ia mengungkapkan, museum ini memiliki koleksi internasional, menunjukkan kuatnya diplomasi budaya Solo sejak masa lampau.

“Keistimewaan Radya Pustaka bukan hanya pada usianya, tetapi juga keragaman koleksinya yang berasal dari mancanegara. Kita memiliki naskah dari Belanda, porselen dan biola dari Prancis, keramik dari Tiongkok, guci bersejarah dari Jepang, wayang dari Thailand, hingga senjata tradisional dari Filipina,” sebut Astrid Widayani.

Keragaman ini menjadi bukti hubungan kebudayaan global telah terbentuk kuat di Kota Solo dan penting untuk terus dikonservasi. Adapun untuk meningkatkan kunjungan, khususnya dari kalangan generasi zilenial (Gen Z), pihaknya mendorong inovasi acara museum. Menanggapi konsep Afternoon Tea, Astrid Widayani mengusulkan penguatan kearifan lokal melalui konsep ‘Wedangan’.

“Saya mengusulkan agar ke depan kita menyajikan menu Wedangan, seperti wedang uwuh atau teh telang dikemas menarik sebagai pengalaman baru bagi pengunjung. Ini bisa membuat anak-anak muda merasa lebih dekat dan relevan dengan museum,” tambah Astrid Widayani.

Wakil wali kota juga mengapresiasi terobosan museum melalui penyelenggaraan Festival Rajamala, yang dinilainya sebagai pendekatan tematik segar. Pemerintah Kota Solo berkomitmen memperkuat pengembangan museum melalui peningkatan kualitas kuratorial, pembaruan metode edukasi, serta pemanfaatan teknologi digital agar informasi koleksi semakin mudah diakses publik.

“Mari kita hidupkan museum sebagai ruang belajar, ruang dialog, dan pusat peradaban yang membanggakan Kota Surakarta (Solo),” tutup Astrid Widayani. (add)