Penampilan teater dari salah satu peserta Festival Drama Realis Remaja (FDRR) di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kamis (06/11/2025) malam. (Foto: Dok. solotrust.com/Fanissya Suryaningrum)
SOLO, solotrust.com - Festival Drama Realis Remaja (FDRR) kembali digelar pada 2025 setelah vakum selama dua tahun akibat pandemic Covid-19. Kegiatan ini diselenggarakan Omah Kreatif Arturah sebagai bentuk upaya membangkitkan semangat seni, budaya, dan pendidikan karakter di kalangan remaja.
Perwakilan dari Omah Kreatif Arturah sekaligus penggagas Festival Drama Realis Remaja, Turah Hananto, menjelaskan tujuan utama dari FDRR bukan sekadar untuk menampilkan karya teater, melainkan menjadi wadah pembentukan karakter generasi muda.
“Melalui kegiatan ini, teman-teman remaja diharapkan mampu membangun kerja kolektif, mengolah kepedulian terhadap seni budaya, serta membentuk kepribadian mereka sebagai karakter bangsa yang memiliki nilai lebih,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Turah Hananto menambahkan, festival ini juga berperan sebagai sarana pendidikan karakter di tengah era digital yang membuat remaja cenderung kehilangan nilai-nilai sosial. Melalui drama realis, peserta dapat memahami realitas kehidupan masyarakat, meningkatkan empati, serta menumbuhkan rasa peduli terhadap kondisi sosial di sekitar mereka.
Festival Drama Realis Remaja sendiri kali pertama digelar pada 2011 di STSI Surakarta (sekarang ISI Surakarta). Setelah berpindah tempat beberapa kali, kini festival tersebut kembali diselenggarakan oleh Omah Kreatif Arturah sebagai ‘rumah’ awal terbentuknya kegiatan ini. Tahun ini, festival diikuti peserta dari berbagai sekolah menengah atas se-Jawa, bahkan mendapat antusiasme dari komunitas teater luar Jawa, termasuk Bali.
Puncak acara dilaksanakan pada Kamis (06/11/2025) malam di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) dengan penampilan penutup dari SMA Negeri 5 Surakarta, membawakan drama berjudul ‘Nenek Tercinta.’ Melalui festival ini, diharapkan semangat teater remaja terus hidup dan menjadi media pembelajaran karakter bangsa yang humanis, kreatif, dan berempati tinggi.
*) Reporter: Fanissya Suryaningrum/Zulaikhah Nur Istiqomah
