Warung Kare Ayam di depan Pura mangkunegaran yang hanya buka tiap Jumat sore dan Minggu pagi.

SOLO, solotrust.com- Warung Kare Ayam di depan Pura mangkunegaran, Kota Surakarta, tetap mempertahankan eksistensinya sejak 2015. Hanya buka dua hari dalam sepekan, warung makan yang dikelola oleh Lilik dengan meneruskan usaha keluarga ini menjadi salah satu tujuan kuliner bagi jamaah pengajian MTA yang datang dari berbagai daerah.

Lilik mengatakan, dirinya memilih berjualan setiap Jumat Sore dan Minggu pagi karena menyesuaikan jadwal pengajian jamaah MTA yang rutin digelar di kawasan tersebut.

“Kami jualannya memang setiap Jumat sore sama Minggu pagi karena pas ada pengajian MTA, jadi banyak jamaah yang datang dan sekalian mencari makan setelah kegiatan selesai,” ujar Lilik.

Menurutnya, lokasi berjualan yang berada tepat di sekitar kawasan pengajian sekaligus kawasan wisata menjadi salah satu alasan usahanya mampu bertahan hingga sekarang. Selain mudah dijangkau jamaah, wisatawan, maupun masyarakat umum yang melintas di kawasan Mangkunegaran juga kerap mampir untuk menikmati kare ayam di warungnya.

Pembeli biasanya meningkat ketika pengajian dihadiri tamu dari luar kota maupun luar Pulau Jawa. Lilik mengatakan, sebagian besar pelanggannya merupakan jamaah pengajian, meski tidak sedikit juga berasal dari masyarakat sekitar dan wisatawan yang sengaja datang untuk menikmati Kare Ayam.

“Kalau ada tamu pengajian dari luar daerah biasanya lebih ramai. Banyak yang sudah langganan, jadi setiap datang ke Solo pasti mampir ke sini,” ungkap lelaki itu.

Cita rasa yang dihadirkan memiliki kekhasan sendiri karena menggunakan racikan bumbu rempah yang diwariskan secara turun temurun oleh keluarganya, hal inilah yang membuat cita rasa menjadi gurih dan khas.

“Kare Ayam kami memiliki cita rasa khas dengan bumbu rempah yang diwariskan secara turun-temurun sehingga menghasilkan rasa yang gurih dan nikmat,” terangnya.

Lilik menambahkan, proses pembuatan kare membutuhkan waktu yang cukup lama, dimulai dengan menyiapkan bumbu, mengolah ayam, lalu memasaknya selama beberapa jam hingga semua bumbu dapat meresap dan matang sempurna.

“Proses memasak membutuhkan waktu beberapa jam agar bumbu matang sempurna dan menghasilkan cita rasa yang khas,” tambahnya.

Meski telah bertahan lebih dari satu dekade, Lilik mengaku usaha kuliner yang dikelolanya menghadapi sejumlah tantangan. Selain kenaikan bahan baku, musim penghujan menjadi kendala tersendiri karena warung yang dikelolanya menggunakan konsep tenda.

Saat hujan turun, Lilik harus bekerja lebih keras untuk memasang tenda dan menyiapkan seluruh perlengkapan berjualan. Kondisi tersebut membuat proses persiapan menjadi lebih berat dibandingkan saat cuaca cerah. Di sisi lain, jumlah pembeli juga bergantung pada penyelenggaraan pengajian di kawasan Mangkunegaran itu.

Meski demikian, Lilik tetap berkomitmen menjaga kualitas rasa dan pelayanan kepada pelanggan. Ia berharap usaha keluarga yang telah dirintis sejak 2015 itu dapat terus berkembang, semakin dikenal masyarakat, serta tetap menjadi pilihan kuliner bagi jamaah pengajian maupun wisatawan yang berkunjung ke Kota Surakarta.

 

Penulis: Dian, Intan, Rieke