Menteri Sosial, Saifullah Yusuf memberi pesan kepada siswa Sekolah Rakyat. (Foto: sekolahrakyat.kemensos.go.id)
SURABAYA, solotrust.com - Penyelenggaraan Sekolah Rakyat telah berjalan hampir satu semester mulai membuahkan hasil, baik dari aspek fisik dan kesehatan, psikososial dan talenta, maupun akademik siswa.
Tiga ukuran ini, menurut Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat, Muhammad Nuh adalah indikator utama capaian program Sekolah Rakyat.
“Sekolah Rakyat sudah hampir satu semester berjalan. Oleh karena itu, saat paling tepat sekarang ini melakukan evaluasi pelaksanaan dari Sekolah Rakyat,” katanya, usai menghadiri Doa Bersama untuk Sumatra bersama ribuan peserta dari siswa Sekolah Rakyat, wali murid, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, hingga pendamping sosial di Graha Universitas Negeri Surabaya (Unesa), awal pekan ini, dilansir dari laman sekolahrakyat.kemensos.go.id.
Muhammad Nuh menjelaskan, evaluasi dilakukan secara komprehensif terhadap tiga aspek utama. Pertama, aspek fisik dan kesehatan siswa. Sejak awal masuk, setiap siswa dipetakan kondisi kesehatannya, mulai dari berat dan tinggi badan, kebugaran, hingga kondisi medis. Perubahan kondisi fisik siswa kemudian dibandingkan antara saat masuk dan setelah satu semester pembelajaran.
"Waktu masuk dulu seperti apa, berat badan, tinggi badan (hingga) tingkat kesehatan dan kebugarannya. Setelah satu semester apa yang berubah. Before and after dari sisi kesehatan dan kebugaran," katanya.
Aspek kedua dievaluasi adalah psikososial dan talenta siswa. Setiap anak memiliki peta talenta yang menjadi dasar pendekatan pembelajaran. Menurut Muhammad Nuh, Sekolah Rakyat tak hanya menekankan capaian akademik, namun juga pengembangan potensi dan keunikan setiap anak.
“Setiap anak punya kartu yang namanya talenta. Berangkat dari talenta inilah sebenarnya yang ingin kita kembangkan. Tidak hanya aspek akademiknya semata," jelas dia.
Sementara aspek ketiga adalah capaian akademik siswa. Ketiga pilar itu menjadi dasar penilaian perkembangan siswa Sekolah Rakyat.
Muhammad Nuh mencontohkan salah satu siswa bernama Azril dari Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi saat awal masuk belum mampu membaca dan menulis karena kondisi tertentu. Dengan pendekatan berbasis talenta dan motivasi, kemampuan Azril berkembang signifikan.
"Itu tadinya tidak bisa baca-tulis karena kondisi tertentu, tapi dengan peta talenta, kita ketahui peta talentanya punya semangat kuat. Alhamdulillah dengan pendekatan tepat, akhirnya dia bisa membaca dan menulis, bahkan ranking tiga di kelasnya,” ungkapnya.
Menurut Muhammad Nuh, pendekatan ini menjadi ciri khas Sekolah Rakyat yang melihat potensi talenta siswa secara menyeluruh. Potensi sebelumnya tak terlihat kemudian dieksplorasi hingga menjadi kompetensi nyata.
Hasil evaluasi pelaksanaan Sekolah Rakyat secara menyeluruh dijadwal keluar pada Januari 2026. Penilaian tak hanya menggunakan ukuran konvensional, namun juga dampak sosial melalui Social Return on Investment (SROI).
"Sekolah Rakyat bukan profit oriented, tapi investasi sosial, maka yang kami ukur adalah SROI-nya berapa, sehingga dari situ tidak hanya diukur jumlah lulusannya berapa, tetapi nilai sosial berapa yang bisa kita telurkan dari Sekolah Rakyat itu," jelasnya.
Dalam kesempatan sama, Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, menyampaikan secara umum penyelenggaraan Sekolah Rakyat tahun ini di 166 daerah berjalan baik, meskipun pada tahap awal masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang terus diperbaiki.
“Alhamdulillah secara umum penyelenggaraan Sekolah Rakyat tahun ini bisa terselenggara dengan baik. Hari ini kita lihat bagaimana proses belajar mengajar di Sekolah Rakyat mulai menampakkan hasil-hasilnya,” kata Saifullah Yusuf.
Ia menyebutkan, evaluasi dilakukan terhadap penyelenggaraan Sekolah Rakyat yang dimulai sejak Juli di puluhan daerah dan terus bertambah pada bulan-bulan berikutnya. Saifullah Yusuf mengaku terharu melihat mulai munculnya bakat dan potensi siswa Sekolah Rakyat.
"Saya merasa terharu karena mulai nampak bakat-bakat dari siswa Sekolah Rakyat," bilangnya.
Sejak awal, siswa Sekolah Rakyat tidak melalui tes akademik. Tahapan awal dimulai dengan pemeriksaan kesehatan, dilanjutkan pemetaan talenta menggunakan teknologi DNA Talent berbasis kecerdasan buatan untuk mengetahui minat, bakat, dan potensi siswa.
“Nah dari situ kita bisa mengetahui, sekaligus nanti membimbing serta mengarahkan sebaiknya mereka nanti berprofesi di bidang apa," kata Saifullah Yusuf.
Ia menegaskan, sesuai arahan Presiden RI Prabowo Subianto, lulusan Sekolah Rakyat diharapkan dapat melanjutkan ke perguruan tinggi atau disiapkan menjadi tenaga kerja terampil, baik di dalam maupun luar negeri. Bagi siswa yang memilih jalur wirausaha, pemerintah juga akan memberikan pendampingan melalui kerja sama lintas kementerian.
Sebagai informasi, hingga saat ini Sekolah Rakyat telah beroperasi di 166 lokasi dengan daya tampung 15.820 siswa, terbagi dalam 638 rombongan belajar. Penyelenggaraan pendidikan didukung 10.500 guru serta 4.442 tenaga kependidikan.
