Ketua Tim Kelembagaan Komunikasi Strategis Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Yudi Syahrial, saat memberikan sambutan dan membuka acara Bimbingan Teknis Produksi Konten Media Sosial tentang Isu Prioritas Pemerintah bagi Mitra Strategis di Monumen Pers Nasional Solo

SOLO, solotrust.com - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mengajak kalangan influencer, seperti pegiat media sosial, aktivis komunikasi publik, dan akademisi untuk memproduksi konten-konten media sosial yang strategis dan berdampak positif kepada masyarakat. Hal ini dinilai cukup penting, mengingat di era sekarang banyak disinformasi beredar di tengah masyarakat serta pengaruhnya yang signifikan terhadap pembentukan opini publik.
 
Ketua Tim Kelembagaan Komunikasi Strategis Kemkomdigi, Yudi Syahrial, menyampaikan saat ini pemerintah tengah intensif menggencarkan pembangunan lewat berbagai program prioritas, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG), Sekolah Rakyat, hingga Koperasi Merah Putih. Sejumlah program andalan itu dilakukan tak lain demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
 
“Untuk itu, dalam rangka penyebaran informasi terkait program-program prioritas pemerintah, kami mengajak semua pihak untuk ikut menyampaikan informasi kepada publik dengan baik,” ujarnya, saat acara ‘Bimbingan Teknis Produksi Konten Media Sosial tentang Isu Prioritas Pemerintah bagi Mitra Strategis’ di Monumen Pers Nasional Solo, beberapa waktu lalu. 
 
Menurut Yudi Syahrial, keberadaan media sosial telah mengubah perilaku masyarakat dan berpengaruh pada pembentukan opini publik. Kondisi ini secara tidak langsung akan memengaruhi kehidupan individu dalam bermasyarakat dan bernegara.
 
Peran Influencer dalam Penyampaian Informasi
 
Karenanya, Yudi Syahrial meminta kepada para influencer untuk ikut berperan aktif dalam penyampaian informasi program-program pemerintah secara positif, sekaligus membangun interaksi dua arah dengan audiens. Terlebih, saat ini masih banyak program pemerintah belum tersampaikan kepada masyarakat dengan baik.
 
Sementara itu, Praktisi Kehumasan dan Pakar Budaya Digital, Rulli Nasrullah, menyatakan kreativitas membuat konten akan sia-sia apabila tanpa didukung peralatan memadai. Menurutnya, setidaknya ada tiga sarana pokok untuk menghasilkan konten berkualitas, yakni kamera, clip on atau wireless mic, dan tripod.
 
“Sementara dari sisi skill (keterampilan-red), pengelola media sosial kalau mau bener cara main medsos harus menggunakan content brief, content strategy, content writing, copy writing, content planning, creative writing,” tambah dia ketika memberikan paparan dalam acara yang sama.
 
Tak kalah penting, Rulli Nasrullah memberikan tips agar konten yang diproduksi bisa memperoleh engagement signifikan, yakni seorang kreator konten perlu membangun interaksi intensif dengan para pengguna media sosial lainnya sebelum mengunggah konten.
 
Tradisi dan Teknologi di Era Digitalisasi
 
Di lain sisi, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mengungkapkan Kementerian Komdigi terus berupaya menyatukan tradisi dan teknologi, salah satunya melalui pagelaran seni dan budaya. Menurutnya, digitalisasi tanpa diiringi budaya dan akar yang kuat akan membawa lebih banyak kerugian.
 
Menkomdigi menegaskan perlunya menjaga anak-anak dalam lingkungan aman dan seimbang, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Dia bilang, Indonesia termasuk negara kedua yang kini memiliki regulasi atau peraturan membatasi usia anak untuk mengakses media sosial (Medsos).
 
 
"Ini menjadi bukti bahwa Pak Presiden Prabowo sangat concern betul dengan keberlangsungan kesehatan anak-anak juga secara mental, tidak hanya melalui MBG (Makan Bergizi Gratis), tapi juga bagaimana anak-anak ditunda usianya untuk masuk media sosial," ungkapnya, saat acara Mangkunegaran Natyapura di Dalem Prangwedanan, Mangkunegaran Solo, beberapa waktu lalu. .
 
Mangkunegaran Natyapura tak hanya menyajikan kekayaan seni tradisi Mangkunegaran, namun juga menjadi sarana penting bagi Kemkomdigi menyuarakan perlindungan anak di dunia digital. Pagelaran seni ini meliputi serangkaian acara budaya, mulai dari dialog bersama Mangkunegaran dan Kemkomdigi, pagelaran tari, klenengan gamelan, hingga pertunjukan wayang kulit dari Kawedanan Panti Budaya Mangkunegaran. 
 
Bahaya di Media Sosial Perlu Diwaspadai
 
Lebih lanjut, Meutya Hafid menegaskan ada banyak bahaya di media sosial perlu diwaspadai, seperti judi online, pornografi, hingga aksi perundungan, semua sudah terjadi di depan mata. Regulasi pembatasan usia anak mengakses media sosial, kata dia, ibarat orangtua melarang anak di bawah umur mengendarai kendaraan bermotor karena sadar akan bahayanya.
 
"Sesuatu yang kita tahu berbahaya, kita tunda untuk diberikan haknya kepada anak-anak sampai usia yang kita anggap cukup untuk menghadapi bahaya-bahaya yang ada," tutur Meutya Hafid. 
 
Menkomdigi meyakini peraturan tak akan bisa berjalan sendiri. Oleh sebab itu, pihaknya menyerukan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk lintas sektor, seperti institusi pendidikan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama, hingga Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak.
 
Meutya Hafid pun menyoroti peran keluarga sebagai perlindungan terbaik yang selalu dimulai dari rumah. Salah satunya terkait penggunaan gawai, terutama untuk media sosial. 
 
"Kalau anak-anaknya memakai HP (handphone), Bapak Ibu tolong diawasi dari belakang, dari tengah, dan juga dari depan," pesannya.
 
Mengutip filosofi Jawa 'Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani,' Meutya Hafid meminta orangtua menjadi contoh dengan membatasi penggunaan gawai mereka sendiri, terutama saat waktu keluarga.
 
Platform Media Sosial Perlu Batasi Akun Anak
 
Ia pun secara khusus menugaskan platform media sosial, seperti Instagram dan TikTok untuk mampu mengidentifikasi dan membatasi akun anak-anak yang 'pura-pura dewasa,' demi menjaga agar generasi penerus dapat tumbuh di lingkungan aman, sehat, dan penuh kasih sayang.
 
"Tidak hanya kepada Bapak Ibu kami titipkan ini, justru yang paling utama adalah para platform. Ini akan kami atur melalui penyelenggara aplikasi," kata Meutya Hafid.
 
"Jadi merekalah nanti yang akan menyaring dengan sendirinya menggunakan teknologi. Ini sedang kami berikan waktu untuk melakukan upgrading terhadap teknologinya," pungkas dia.