Zahwa Nabila Asra

Solotrust.com - Pernah nggak sih kalian denger kalimat, "Ya wajar aja cowok gajinya gede, kan dia kepala keluarga"? Kalimat ini mungkin terdengar "bijak" di telinga generasi kakek-nenek kita, tapi di 2026, argumen ini justru jadi red flag besar yang melanggengkan Gender Pay Gap.

​Meskipun secara pendidikan kita sudah setara, bahkan jumlah lulusan sarjana perempuan sekarang sering melampaui laki-laki, ternyata di dunia kerja, perempuan masih sering "didiskon". Yuk, kita bedah kenapa masalah ini jauh lebih dalam dari sekadar angka di slip gaji!

​1. Realitas Data: Kerja Sama Keras, Hasil Beda Kelas

​Mari kita bicara angka biar nggak dibilang cuma asumsi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian PPPA, kesenjangan upah gender di Indonesia itu nyata. Rata-rata upah buruh laki-laki sering kali berada di angka Rp3,3 juta, sementara perempuan hanya di angka Rp2,5 jutaan.

​Ini artinya ada celah sekira 22 hingga 25 persen. Secara teknis, dalam satu tahun kerja, perempuan seolah-olah "kerja bakti" alias nggak dibayar selama hampir tiga bulan dibanding rekan laki-lakinya untuk posisi setara. That’s a huge gap!

​2. Motherhood Penalty: saat Menjadi Ibu Dianggap "Liabilitas"

​Ini realitas lapangan paling pahit. Banyak perusahaan secara halus melakukan Motherhood Penalty.

​Contoh di lapangan: Ada karyawan perempuan performanya A+, tapi pas dia hamil atau balik dari cuti melahirkan, proyek strategisnya dipindah ke rekan laki-laki dengan alasan "biar dia nggak terlalu capek". Ujung-ujungnya? Bonus dan peluang naik pangkatnya jadi macet.

​Sebaliknya, ada namanya Fatherhood Bonus. Laki-laki punya anak malah dianggap lebih "matang" dan layak dapet promosi karena butuh biaya lebih. Fair? I don't think so.

​3. Marginalisasi & Stereotip "Cari Uang Jajan"

​Sesuai catatan kamu soal diskriminasi gender, stereotip itu jahat banget. Di lapangan, masih banyak HRD atau pemilik usaha mikir kalau perempuan kerja itu cuma buat "sampingan" atau cari uang jajan tambahan karena "nanti kan ada suami yang menanggung".

​Padahal, data menunjukkan jumlah kepala keluarga perempuan (PEKKA) di Indonesia terus meningkat. Banyak perempuan jadi tulang punggung tunggal, tapi gajinya tetap dipukul rata pakai standar "uang jajan".

​4. Glass Ceiling: Atap Kaca yang Masih Tebal

​Di catatan kepemimpinanmu, kita belajar kalau pemimpin harus punya visi dan integritas. Perempuan punya itu semua, tapi kenapa posisi CEO atau manajer senior masih didominasi cowok?

Inilah yang disebut Glass Ceiling. Hambatan nggak terlihat ini sering kali berupa budaya kantor yang "maskulin" banget, misalnya keputusan-keputusan penting diambil pas lagi nongkrong malam atau main golf, di mana perempuan sering nggak bisa ikut karena masih punya beban domestik di rumah.

​5. "Tafsir" yang Menghambat dan Solusi ke Depan

​Banyak hambatan juga datang dari penafsiran nilai menganggap perempuan nggak boleh lebih tinggi dari laki-laki. Padahal, sakinah mawaddah warrahmah, hubungan itu harusnya tentang komitmen dan saling mendukung potensi satu sama lain.

Gender Pay Gap bukan cuma soal uang, tapi soal harga diri dan keadilan. Kementerian PPPA terus mendorong kebijakan kesetaraan gender di tempat kerja, tapi itu nggak cukup kalau kita sendiri nggak sadar.

​Sudah saatnya kita setop pakai alasan "kodrat" buat bayar orang dengan harga murah. Equality looks good on everyone, and it should look good on our bank accounts too!  (Zahwa Nabila Asra)