Program #SungaiLestari, United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia bersama Clean Rivers, Pemerintah Norwegia, serta pemerintah pusat dan daerah.

SOLO, solotrust.com - Kota Solo kembali mendapat kepercayaan sebagai daerah percontohan nasional dalam pengelolaan sampah plastik di sungai. Melalui Program #SungaiLestari, United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia bersama Clean Rivers, Pemerintah Norwegia, serta pemerintah pusat dan daerah mendorong pengelolaan sampah berbasis kolaborasi dengan mengedepankan solusi lokal yang berkelanjutan.

Program tersebut menempatkan Solo sebagai salah satu dari lima daerah percontohan bersama Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, dan Bali. Pemilihan Solo dinilai strategis karena dilintasi aliran Bengawan Solo yang berkontribusi terhadap kebocoran sampah ke laut apabila tidak dikelola dengan baik.

National Project Manager UNDP Indonesia sekaligus National Project Coordinator Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut, Ahmad Bahri Rambe, mengatakan program ini tidak hanya berfokus mengangkat sampah yang sudah berada di sungai, tetapi juga membangun sistem pengelolaan sampah dari hulu melalui pelibatan masyarakat dan penguatan ekonomi sirkular.

"Program ini dilaksanakan di lima kota sebagai proyek percontohan. Harapannya, Surakarta dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam pengelolaan sampah sungai secara kolaboratif," kata Ahmad Bahri.

UNDP menargetkan sebanyak 1.000 ton sampah dapat ditangani hingga 2027 melalui program tersebut. Sampah yang berhasil dikumpulkan nantinya tidak hanya diangkut dari sungai, tetapi juga dipilah dan dikelola agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Sementara itu, organisasi lingkungan Clean Rivers menegaskan keberhasilan Program #SungaiLestari tidak hanya bergantung pada teknologi, melainkan pada keterlibatan masyarakat di tingkat lokal. Menurut mereka, perubahan perilaku warga menjadi faktor utama untuk menghentikan aliran sampah plastik ke sungai.

CEO Clean Rivers Gary Bencheghib menyebut setiap daerah memiliki karakteristik berbeda sehingga solusi yang diterapkan juga harus disesuaikan dengan kondisi setempat. Karena itu, kolaborasi bersama pemerintah daerah, komunitas, bank sampah, hingga warga menjadi fondasi utama keberhasilan program.

Di Solo, implementasi program difokuskan di kawasan Kali Premulung yang melintasi Kecamatan Laweyan hingga Serengan. Program juga disertai pemasangan perangkat penahan sampah, edukasi kepada masyarakat, serta penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta Herwin Tri Nugroho Adi mengatakan program tersebut sejalan dengan upaya Pemkot Solo mengurangi timbulan sampah dari hulu. Ia menyebut volume sampah yang dikirim ke TPA Putri Cempo telah berkurang sekitar 14 persen dan diharapkan terus menurun melalui kolaborasi ini.

"Harapan kami, dengan kolaborasi bersama UNDP melalui Program Sungai Lestari ini, dalam satu hingga dua tahun ke depan sampah yang masuk ke TPA bisa berkurang hingga 50 persen," ujar Herwin. (add)