Sukoharjo Fans saat memberikan dukungan kepada tim kesayangannya, Persiharjo Sukoharjo
​SUKOHARJO, solotrust.com – Laga lanjutan Liga 4 Jawa Tengah antara Persiharjo Sukoharjo melawan Persikama dipastikan akan terasa berbeda. Kendati berstatus tuan rumah, tribun Stadion Gelora Merdeka diprediksi akan sepi dari riuh rendah koreografi khas Sukoharjo Fans. Kelompok pendukung militan ini secara resmi memilih untuk memberikan dukungan dari luar pagar stadion.
​Aksi ‘menepi’ ini bukan tanpa alasan. Tokoh Sukoharjo Fans, Murwendy Tanomo, mengungkapkan keputusan ini adalah akumulasi dari tersumbatnya ruang ekspresi bagi suporter.
​Kritik Minimnya Sinergi dan Ruang Ekspresi
​Murwendy Tanomo menilai ada ganjalan komunikasi antara pihak pengelola klub dengan suporter. Ia merasa kultur suporter tengah berupaya memodernisasi diri justru dibatasi berbagai aturan yang dianggap sepihak.
​"Besok kami tetap mendukung Persiharjo, tapi dari luar stadion. Ini buntut dari banyaknya keberatan dari otoritas pengelola sepak bola di Sukoharjo. Kami merasa kurang diajak bersinergi, padahal suporter adalah bagian tak terpisahkan dari klub," tegasnya.
Murwendy Tanomo juga menyentil narasi stadion ramah anak dan perempuan yang menurutnya sering kali dijadikan alasan untuk membenturkan kultur suporter dengan berbagai larangan mematikan kreativitas di tribun.
​Manajemen Persiharjo: "Hanya Miskomunikasi"
​Merespons aksi tersebut, Komisaris PT Garuda Mabar, Machmud Luthfi Husain, angkat bicara. Ia mengklarifikasi tak pernah ada larangan bagi suporter untuk masuk ke stadion. Sebaliknya, dirinya menegaskan kehadiran Sukoharjo Fans sangat krusial untuk membakar semangat pemain.
​"Tim Persiharjo sangat butuh dukungan penuh. Kehadiran suporter penting untuk menaikkan mental pemain, sekaligus memberikan tekanan psikologis (psywar) bagi lawan dan mengawasi kinerja wasit," ujar Machmud Luthfi Husain.
​Garis Merah PSSI: Psywar Boleh, Rasisme No!
Machmud Luthfi Husain menjelaskan, ketatnya pengawasan di stadion semata-mata untuk menghindari sanksi berat dari Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Berdasarkan regulasi, ada denda puluhan juta rupiah jika terjadi pelanggaran, seperti spanduk/banner bernada menghina, provokatif, atau mengandung isu politik serta suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Sanksi juga dijatuhkan manakala ada ​nyanyian/chant mengandung unsur rasisme dan diskriminasi.
​“Selama hal-hal (pelanggaran) tersebut tidak terjadi, maka psywar itu boleh. Tidak ada sanksi,” pungkasnya. (nas)
