Suasana kegiatan Training of Trainers (TOT) Kepemiluan.
​SUKOHARJO, solotrust.com – Suasana Pendopo KPU Kabupaten Sukoharjo pada Rabu (24/6/2026) tampak berbeda dari biasanya. Bukan sekadar urusan administratif pemilu, hari ini pendopo tersebut menjadi ruang diskusi hidup yang mempertemukan para guru Pendidikan Pancasila dengan puluhan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMP se-Kabupaten Sukoharjo.
​Mereka berkumpul dalam kegiatan Training of Trainers (TOT) Kepemiluan, sebuah langkah strategis yang diambil KPU Sukoharjo untuk menyemai benih-benih demokrasi langsung dari bangku sekolah.
​Ketua KPU Kabupaten Sukoharjo, Syakbani Eko Raharjo, membuka acara dengan pesan yang mendalam. Baginya, sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, melainkan laboratorium demokrasi yang paling efektif bagi generasi muda.
​"Guru dan pengurus OSIS adalah garda terdepan. Mereka adalah agen pendidikan pemilih yang memegang kunci untuk menanamkan nilai partisipasi dan tanggung jawab kepada siswa sejak dini," ujar Syakbani dalam sambutannya.
​Menjadikan Demokrasi sebagai Gaya Hidup
​Dalam sesi materi, Murwedhy Tanomo, Anggota KPU Sukoharjo Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM, mengajak para peserta melihat pemilu dari sudut pandang yang berbeda. Bukan sekadar ritual lima tahunan, namun sebuah instrumen penting dalam menentukan arah bangsa.
​Peserta tidak hanya dibekali dengan teknis penyelenggaraan pemilu, tetapi juga didorong untuk berani berekspresi. Murwedhy menekankan pentingnya peran guru dan siswa sebagai fasilitator yang kreatif.
​"Jangan hanya terpaku pada buku teks. Manfaatkan media sosial, buat konten yang edukatif, dan jadikan diskusi kepemiluan sebagai bagian dari kegiatan organisasi siswa maupun komunitas di sekolah," ungkap Murwedhy di sela-sela pemaparan.
​Harapan bagi Masa Depan
​Kegiatan ini menjadi jembatan bagi KPU untuk terus menjalin kemitraan berkelanjutan dengan dunia pendidikan. KPU Sukoharjo menyadari bahwa pemilih pemula adalah segmen yang sangat dinamis dan memiliki pengaruh besar dalam menentukan kualitas demokrasi di masa depan.
​Dengan hadirnya para "duta" demokrasi dari kalangan guru dan OSIS ini, diharapkan kesadaran politik di kalangan pelajar tidak lagi dianggap sebagai hal yang kaku atau membosankan. Sebaliknya, demokrasi diharapkan tumbuh menjadi napas baru bagi generasi muda Sukoharjo.
​KPU berharap, melalui pelatihan ini, lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kritis dan aktif berpartisipasi dalam setiap penyelenggaraan pemilu. Sebab, masa depan demokrasi kita, sesungguhnya sedang dirajut dari ruang-ruang kelas hari ini.
