Kirab Budaya dan Kartasura Royal Ethno Carnival.
SUKOHARJO, solotrust.com— Ruas Jalan Slamet Riyadi Kartasura mendadak berubah menjadi lautan manusia pada Minggu (11/10/2026) pagi. Ribuan warga tampak antusias memadati sepanjang rute Kirab Budaya dan Kartasura Royal Ethno Carnival yang digelar meriah dalam rangka memperingati Hari Jadi (Ambal Warsa) ke-346 Kartasura.
Keriuhan parade budaya yang dimulai sejak pukul 07.30 WIB ini makin semarak dengan hadirnya sekitar 25 kontingen yang menampilkan beragam pementasan seni, tradisi, hingga parade kostum kreatif.
Mengambil titik start di halaman Kafe Kopi Heika—kawasan Car Free Day (CFD) Kelurahan Ngadirejo—para peserta mengular menyusuri jalan menuju panggung utama yang berlokasi di area bersejarah Petilasan Benteng Keraton Kartasura.
Sepanjang perjalanan, warga disuguhkan pertunjukan memukau dari berbagai elemen masyarakat, antara lain Prajurit dan Kerabat Keraton Surakarta Hadiningrat dengan pakaian adatnya yang khas dan anggun. Moment ini makin meriah dengan atraksi Reog dan Komunitas Seni yang energik memancing riuk tepuk tangan penonton. Kemudia yang tak kalah menarik perhatian Perguruan Pencak Silat dan Pelajar yang menampilkan harmoni kreativitas generasi muda.
“Perpaduan tradisi keraton, kesenian rakyat, dan seni modern generasi muda menjadi magnet utama perayaan tahun ini.”ujarnya.
Turut hadir dalam perhelatan budaya ini Plt. Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo, didampingi Sekda Abdul Haris Widodo serta jajaran Forkopimcam Kartasura.
Dalam sambutannya, Sapto menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, jajaran UIN Raden Mas Said Surakarta, hingga masyarakat yang sukses menyelenggarakan Festival Seni Budaya dan Ekonomi Kreatif (FESTRA).
Ia menegaskan bahwa perayaan Ambal Warsa bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan momentum penting untuk merawat identitas sejarah sekaligus mendongkrak roda ekonomi lokal.
"Melalui Kartasura Royal Ethno Carnival dan Kirab Budaya, kita menunjukkan bahwa seni tradisional mampu hidup berdampingan dengan kreativitas modern. Kirab budaya bukan sekadar parade, melainkan sarana menampilkan kekayaan seni, tradisi, kreativitas, serta semangat gotong royong warga," jelas Sapto.
Selain atraksi budaya, rangkaian FESTRA juga memberi panggung luas bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal untuk menjajakan produk mereka, sehingga perayaan ini memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga sekitar.
Rangkaian acara ditutup dengan penampilan spektakuler para peserta di panggung utama sisi selatan benteng petilasan, menegaskan komitmen masyarakat Kartasura dalam merawat warisan leluhur dan mempererat tali kebersamaan. (nas)
