Dari kiri ke kanan, Bobby Wiranata Adios Sales & Network Manager TUS, Chris Zhong Sales Director Forland, Cui Jue, GM Forland Indonesia Branch, JinHong Lin Darwin, Presiden Direktur TUS, APM Forland Indonesia, Radinal Mufti, Product & Aftersales Operation TUS, Yedi Sondi, General Manager TUS.

JAKARTA, solotrust.com– Dalam setiap fase disrupsi industri, terdapat inflection point — fase ketika struktur pasar mulai berubah dan peluang kompetitif baru terbuka. Di Indonesia, segmen kendaraan niaga listrik saat ini sedang berada di titik tersebut: masih sangat awal, namun dinamika permintaan sudah mulai terbentuk.
Meskipun penetrasi kendaraan listrik penumpang telah mencapai angka dua digit, adopsi kendaraan niaga listrik secara nasional masih di bawah 1 persen. Kondisi ini mencerminkan ruang pasar yang belum digarap dan memberikan kesempatan bagi pelaku global untuk membangun ekosistem sejak awal.
Melihat peluang tersebut, Forland, salah satu produsen kendaraan niaga terbesar di Tiongkok, resmi memasuki Indonesia melalui penunjukan Distributor dengan PT Tangguh Utama Sejahtera (TUS).
Pertumbuhan Logistik & E-Commerce: Fondasi Permintaan
Permintaan kendaraan niaga di Indonesia sangat dipengaruhi oleh ekspansi logistik dan perdagangan digital. Sektor logistik diperkirakan akan terus berkembang dengan pertumbuhan tahunan rata-rata di kisaran 10–12 persen, didorong oleh infrastruktur, urbanisasi, dan e-commerce yang terus meningkat. Menurut laporan riset industri, nilai pasar logistik Indonesia diperkirakan telah mencapai sekitar Rp5.800 triliun pada 2024, setara dengan lebih dari 20% PDB negara, yang menunjukkan peran strategis sektor ini sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
Pasar logistik e-commerce Indonesia sendiri diproyeksikan tumbuh signifikan — ukuran pasar logistik e-commerce diperkirakan mencapai USD5,7 miliar pada 2026 dengan laju pertumbuhan tahunan sekitar 8,4% dalam beberapa tahun ke depan, mencerminkan peningkatan volume pengiriman baik untuk B2C maupun B2B.
Distribusi last-mile kini menjadi aspek utama dalam strategi logistik, terutama di kota-kota besar, dimana konsumen mengharapkan layanan yang lebih cepat dan andal.
“Jika kendaraan listrik penumpang sudah mendekati 15 persen penetrasi, kendaraan niaga listrik bahkan belum mencapai 1 persen. Ini bukan sekadar peluang bisnis — ini adalah kesempatan strategis untuk membentuk pasar sejak awal.”
tegas Presiden Direktur TUS, APM Forland Indonesia, JinHong Lin,Darwin.
Sinergi dengan Kebijakan Elektrifikasi dan Dekarbonisasi
Indonesia secara proaktif mendorong transisi energi melalui roadmap elektrifikasi kendaraan dan kebijakan insentif EV, yang merupakan bagian dari komitmen nasional menuju net zero emission. Kendaraan niaga, sebagai tulang punggung distribusi barang, berkontribusi signifikan terhadap konsumsi bahan bakar dan emisi gas rumah kaca. Oleh karena itu, elektrifikasi di segmen ini memiliki implikasi keseimbangan antara efisiensi operasional dan tujuan lingkungan jangka panjang.
Kebijakan yang mendukung, bersama dengan investasi infrastruktur seperti jalur distribusi dan hub logistik, memperkuat daya tarik Indonesia sebagai tempat yang tepat untuk investasi Commercial EV.
Indonesia sebagai Hub Regional Commercial EV
Secara geografis dan demografis, Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Permintaan domestik yang kuat dikombinasikan dengan konektivitas maritim yang luas menciptakan peluang jangka panjang sebagai pusat logistik regional.
Masuknya Forland di tahap awal pertumbuhan Commercial EV memberikan perusahaan keunggulan dalam membangun jaringan layanan, distribusi, dan persepsi merek sebelum pasar menjadi lebih kompetitif.
“Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat dan pertumbuhan logistik yang dinamis. Kami melihat Indonesia sebagai pasar kunci di Asia Tenggara untuk pengembangan kendaraan niaga modern dan solusi yang berkelanjutan.”
Jelas GM Forland Overseas Business Department, Mr. Dong Yongsheng.
Raksasa Global yang Kini Hadir
Forland telah memproduksi lebih dari 6,8 juta unit kendaraan dan mendistribusikannya ke 18 negara di berbagai kawasan dunia, menjadikannya salah satu kekuatan besar dalam industri kendaraan niaga internasional.
Kemitraan dengan PT Tangguh Utama Sejahtera merupakan fondasi strategis untuk membangun jaringan distribusi dan layanan yang siap menjawab kebutuhan armada komersial Indonesia — mulai dari fleet operasional konvensional hingga kemungkinan integrasi kendaraan niaga listrik di masa depan.
Produksi Lokal dengan target mencapai kandungan lokal TKDN sebesar 40% juga akan segera dimulai dengan fasilitas produksi di Jawa Barat.
Pertanyaan yang kini muncul bagi industri bukan lagi sekadar pertumbuhan, tetapi siapa yang akan memimpin ketika kurva adopsi naik tajam. Forland memilih untuk berada di depan.
Sebagai bagian dari peluncuran merek di Indonesia, Forland akan memperkenalkan kampanye “The Unseen Giant”, menggambarkan kekuatan global perusahaan yang selama ini mungkin belum terlihat, namun memiliki dampak nyata di berbagai negara — dan kini mulai mengambil posisi di Indonesia.