Tanah bergerak terjadi di Desa Sambi, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen yang berdampak terhadap rusaknya sejumlah bangunan dan infrastruktur.
SRAGEN, solotrust.com - Warga tiga dukuh di Desa Sambi, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan saat turun hujan dengan intensitas tinggi. Pasalnya, tanah gerak terjadi berulang yang berdampak terhadap rusaknya sejumlah bangunan dan berpotensi mengancam jiwa warga.
Menurut Kepala Desa Sambi, Kresna Widya Purnama, tanah gerak terjadi di tiga wilayah.
“Dukuh Tawangsari ada enam rumah, Bendorejo satu rumah, dan Dukuh Wonorejo ada tiga rumah. Sudah ada yang mengungsi, rumahnya tidak bisa ditinggali," bebernya, Selasa (03/02/2026).
Kresna Widya Purnama mengaku telah menerima laporan dari warga sejak September 2025 lalu dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah melakukan assessment. Pada Januari 2026 ada laporan lagi dengan kerusakan lebih besar dan kini ditindaklanjuti Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
"Jangka pendek, kami mengimbau warga untuk mengamankan diri ketika hujan lebat. Kami juga meninggalkan nomor-nomor penting apabila nanti ada sesuatu terjadi," tambah dia.
Sementara itu, tim dari Badan Geologi Kementerian ESDM bersama Kalak BPBD telah melakukan peninjauan di lokasi, Selasa (03/02/2026). Menurut Penyelidik Bumi Ahli Madya di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Yudi Wahyudi, penyebab tanah bergerak secara morfologi adalah adanya kemiringan lereng dan batu penyusun berupa lempung.
“Nah, lempung ini secara fisik karakteristiknya ketika mengalami jenuh air mudah bergerak. Sementara bangunan di daerah ini rata-rata megah, tipikal bangunan rumah beton. Jadi dengan kondisi batuan penyusun lempung, ketika jenuh air bergerak, tekanan dari bangunan itu ikut berkontribusi," jelasnya.
Yudi Wahyudi menambahkan, ketiga lokasi yang disurvei tipe gerakan tanahnya sama, yakni tipe gerakan lambat berupa rayapan. Ditandai adanya retakan kemudian amblasan membentuk pola terasering, membentuk tapal kuda menuju ke arah tertentu.
Tipe gerakan tanah ini boleh dikatakan tak terlalu membahayakan karena sifatnya lambat dan bertahap, namun memberikan dampak kerusakan signifikan terhadap infrastruktur. Penataan air serta penggunaan bangunan dari bahan kayu menjadi rekomendasi sebagai upaya mengurangi dampak bergeraknya tanah.
"Bagi rumah yang sudah mengalami kehancuran parah, apalagi tinggal separuh, sebaiknya tidak ditempati. Kalau pun mau dibangun kembali, disarankan tidak dibangun bangunan permanen cor beton. Mungkin kita bisa kembali ke kondisi bangunan kearifan lokal zaman nenek moyang kita dulu, rumah tipe panggung dengan bahan kayu," tutup Yudi Wahyudi. (wah)
