Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), Universitas Ngudi Waluyo.

KABUPATEN SEMARANG, solotrust.com- Di tengah perkembangan berbagai produk modern, keterampilan membuat kerajinan tradisional masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah pedesaan. Salah satunya dapat ditemui di Desa Plumutan, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang, melalui kerajinan Rogo Rege yang dibuat secara manual dari lidi kelapa.

Kerajinan tersebut menjadi salah satu potensi lokal yang menarik perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ngudi Waluyo. Pada 10 Agustus 2026, mahasiswa KKN berkesempatan mengunjungi sekaligus belajar secara langsung dari Bapak Trimo, salah seorang pengrajin Rogo Rege di Desa Plumutan.

 

Rogo Rege, Kerajinan dari Lidi Kelapa

Rogo Rege merupakan kerajinan yang dibuat dengan memanfaatkan lidi kelapa sebagai bahan utamanya. Lidi-lidi tersebut diolah dan dianyam dengan teknik tertentu hingga membentuk berbagai macam produk.

Keunikan Rogo Rege terletak pada bentuknya yang dapat dibuat beragam sesuai kebutuhan dan permintaan. Produk yang dihasilkan antara lain piring, keranjang, vas bunga, tempat pensil, serta berbagai bentuk kerajinan lainnya. Ukurannya pun dapat disesuaikan dengan permintaan.

Dari bahan yang sederhana, tangan terampil seorang pengrajin mampu menghasilkan produk dengan bentuk yang menarik dan memiliki nilai guna. Proses tersebut menunjukkan bahwa bahan yang berada di sekitar masyarakat dapat dimanfaatkan menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi.

Kerajinan Rogo Rege berbahan dasar lidi kelapa hasil karya pengrajin Desa Plumutan, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang. Produk dapat dibuat dalam berbagai bentuk dan ukuran sesuai permintaan.

 

Sepuluh Tahun Menekuni Kerajinan

Trimo telah menekuni pembuatan Rogo Rege selama kurang lebih 10 tahun. Keterampilan tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan merupakan pengetahuan yang diperoleh secara turun-temurun dari keluarga atau nenek moyang.

Selama bertahun-tahun, keterampilan tersebut terus dipertahankan dan dikembangkan. Ketekunan Trimo menjadi salah satu contoh bagaimana keterampilan tradisional masih dapat bertahan di tengah perubahan zaman.

Bagi masyarakat Desa Plumutan, keberadaan perajin seperti Trimo bukan hanya berkaitan dengan kegiatan menghasilkan suatu produk. Di dalam proses pembuatan Rogo Rege terdapat pengetahuan, keterampilan tangan, kreativitas, dan pengalaman yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat.

 

Mahasiswa KKN Belajar Langsung dari Pengrajin

Kunjungan mahasiswa KKN Universitas Ngudi Waluyo tidak hanya menjadi kegiatan melihat hasil kerajinan. Mahasiswa juga mendapatkan kesempatan untuk mengetahui proses pembuatan Rogo Rege secara langsung dan ikut mencoba beberapa tahapan pembuatannya.

Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut memberikan pembelajaran baru yang tidak selalu dapat diperoleh di dalam ruang kelas. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah produk kerajinan dibuat melalui proses yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan.

Salah satu kesan yang dirasakan mahasiswa adalah mendapatkan pengalaman baru karena dapat melihat secara langsung sekaligus ikut dalam proses pembuatan Rogo Rege. Kegiatan tersebut juga memberikan pemahaman bahwa sebuah produk yang terlihat sederhana ternyata membutuhkan proses dan keterampilan yang tidak sedikit.

 

Menjaga Kerajinan Lokal agar Tetap Dikenal

Di era modern, kerajinan tradisional menghadapi tantangan untuk tetap dikenal, khususnya oleh generasi muda. Perubahan gaya hidup dan semakin banyaknya produk hasil produksi massal membuat kerajinan yang dibuat secara manual perlu mendapatkan perhatian agar tetap memiliki tempat di masyarakat.

Kegiatan mahasiswa KKN Universitas Ngudi Waluyo bersama Trimo menjadi salah satu bentuk sederhana dalam mengenalkan kembali potensi kerajinan lokal kepada generasi muda. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar mengenai proses pembuatan kerajinan, tetapi juga memahami pentingnya menjaga keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun.

Potensi Rogo Rege juga dapat terus dikembangkan melalui inovasi bentuk, ukuran, dan pemanfaatannya. Produk yang sebelumnya hanya dikenal sebagai kerajinan tradisional dapat dikembangkan menjadi berbagai produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini, tanpa menghilangkan teknik dan nilai tradisional di dalamnya.

 

Dari Lidi Kelapa, Lahir Sebuah Cerita

Kegiatan KKN di Desa Plumutan memberikan gambaran bahwa potensi desa dapat ditemukan dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar masyarakat. Lidi kelapa yang mungkin terlihat sebagai bahan biasa dapat diolah menjadi piring, keranjang, vas bunga, tempat pensil, hingga berbagai bentuk kerajinan lainnya melalui tangan seorang perajin.

Lebih dari sekadar produk, Rogo Rege menyimpan cerita mengenai keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ketekunan Trimo selama kurang lebih satu dekade menunjukkan bahwa menjaga tradisi membutuhkan kemauan untuk terus belajar dan berkarya.

Bagi mahasiswa KKN Universitas Ngudi Waluyo, pertemuan dengan Trimo menjadi pengalaman berharga untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat sekaligus melihat secara langsung potensi ekonomi dan kearifan lokal yang dimiliki Desa Plumutan.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi langkah kecil untuk memperkenalkan Rogo Rege kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa kerajinan lokal memiliki nilai yang patut dihargai, dikembangkan, dan dilestarikan.

Dari lidi kelapa menjadi karya. Dari keterampilan turun-temurun menjadi potensi desa. Rogo Rege menjadi bukti bahwa kearifan lokal dapat terus hidup ketika ada kemauan untuk menjaga dan mengenalkannya kepada generasi berikutnya.