Harapan Baru Anak Kurang Mampu, Sekolah Rakyat Sukoharjo Siap Putus Rantai Kemiskinan.
SUKOHARJO, solotrust.com – Penanganan kemiskinan tak cukup hanya mengandalkan bantuan sosial. Pendidikan yang berkualitas dan adaptif dinilai menjadi kunci utama untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Keberadaan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Sukoharjo pun hadir membawa peran strategis: bukan sekadar tempat belajar, melainkan wadah mencetak masa depan anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Hal itu ditegaskan oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, H Abdul Wachid, saat menggelar kunjungan kerja spesifik ke SRT Sukoharjo pada Jumat (2/10). Menurutnya, program ini menjadi instrumen nyata pengentasan kemiskinan berbasis pendidikan dan pembentukan karakter.
"Sekolah Rakyat ini ternyata tidak hanya fokus pada pendidikan karakter, tetapi juga menjadi instrumen untuk memutus rantai kemiskinan di negeri ini," ujar Abdul Wachid.
Cetak Prestasi hingga Tingkat Internasional
Meski baru berjalan satu tahun, capaian Sekolah Rakyat sudah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Sejumlah siswa terbukti mampu menorehkan prestasi bangga di tingkat nasional hingga internasional, khususnya di bidang sains. Menurut Abdul Wachid, hal ini menjadi bukti bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki potensi besar untuk bersaing jika diberikan akses pendidikan yang setara.
Ia menambahkan, konsep SRT yang merupakan salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini harus dikembangkan secara berkelanjutan dan terintegrasi.
"Anak-anak yang berprestasi akademik tinggi akan diarahkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sedangkan mereka yang memiliki minat di dunia usaha atau UMKM akan dibekali kemampuan kewirausahaan," jelasnya.
Fasilitas Modern dan Catatan Evaluasi
Secara fasilitas, SRT Sukoharjo terbilang sangat memadai. Sekolah ini sudah dilengkapi perangkat digital seperti iPad dan laptop, laboratorium komputer modern, hingga fasilitas olahraga lengkap mulai dari lapangan sepak bola, basket, hingga voli.
Kendati demikian, Abdul Wachid memberi catatan terkait beberapa tantangan yang perlu diselesaikan, seperti penyediaan lahan minimal 5–10 hektare di tingkat daerah serta kepastian regulasi agar bersinergi dengan sistem pendidikan nasional.
Selain itu, kesejahteraan tenaga pendidik juga menjadi sorotan. Mengingat SRT menerapkan sistem berasrama (boarding school), para guru memiliki beban kerja ekstra untuk mendampingi siswa hingga malam hari.
"Para guru tidak hanya mengajar seperti di sekolah umum, tapi juga mendampingi siswa sampai menjelang tidur. Kesejahteraan mereka tentu harus dipikirkan secara serius," tegasnya.
Siswa Nyaman, Siap Akselerasi SDM Unggul
Menanggapi kunjungan tersebut, Plt Bupati Sukoharjo, Eko Sapto Purnomo, menyambut baik berbagai masukan dari Komisi VIII DPR RI untuk mengoptimalkan pelayanan di SRT Sukoharjo.
"Banyak saran dan masukan yang sudah dicatat oleh civitas SRT dan siap kami tindak lanjuti demi optimalisasi pelayanan," kata Sapto.
Sapto menambahkan, indikator keberhasilan awal terlihat dari suasana belajar para siswa yang merasa betah dan gembira selama menuntut ilmu di SRT Sukoharjo.
"Anak-anak merasa happy dan gembira. Sekolah Rakyat Terintegrasi ini menjadi harapan baru dalam mengakselerasi lahirnya sumber daya manusia yang unggul," pungkasnya. (nas)
