Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir saat menyampaikan khutbah Idulfitri di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (20/03/2026). (Foto: muhammadiyah.or.id)
YOGYAKARTA, solotrust.com - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak masyarakat luas bersama para elite bangsa menjadikan Idulfitri 1447 H sebagai momentum memperkuat kedekatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sekaligus menghadirkan nilai-nilai ihsan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara pribadi maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pesan itu disampaikan usai melaksanakan, sekaligus menyampaikan khutbah Idulfitri di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (20/03/2026), dilansir dari laman muhammadiyah.or.id.
Menanggapi adanya perbedaan dalam penetapan hari Idulfitri, Haedar Nashir menekankan agar hal itu tak dibesar-besarkan. Ia mengingatkan, perbedaan merupakan hal wajar dan tak sepatutnya menjadi pemicu perpecahan.
“Perbedaan tidak perlu dipertajam, apalagi sampai saling menyalahkan. Dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam konteks pemerintahan, semua pihak perlu menahan diri,” ujar Haedar Nashir.
Ia juga mengimbau para tokoh agama serta elite bangsa untuk berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan di ruang publik agar tak menimbulkan kegaduhan. Menurut Haedar Nashir, Idulfitri seharusnya dijalani dengan penuh kekhusyukan serta kejernihan hati dan pikiran.
Pihaknya menambahkan, perayaan Idulfitri, baik yang jatuh pada 20, 21 Maret, maupun waktu lainnya perlu disikapi dengan bijak agar tak menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.
“Rayakan Idulfitri dengan khusyuk tanpa terjebak pada perbedaan yang justru dapat merenggangkan persatuan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Haedar Nashir menyatakan optimisme masyarakat Indonesia memiliki kedewasaan dalam menghadapi perbedaan. Ia juga berharap ke depan dunia Islam dapat mewujudkan kalender global tunggal guna meminimalkan perbedaan penetapan hari besar keagamaan.
“Dengan keterbukaan hati, pikiran, serta landasan ilmu pengetahuan, perbedaan itu Insyaa Allah dapat diminimalkan,” kata Haedar Nashir.
Di akhir pernyataannya, Haedar Nashir menekankan pentingnya peran para elite bangsa dalam memberikan keteladanan. Ia mengajak seluruh pemimpin untuk menjadi contoh dalam menjaga persatuan, perdamaian, dan toleransi, sekaligus mendorong kemajuan bangsa.
“Para elite harus mampu menjadi uswah hasanah bagi masyarakat dalam mewujudkan persatuan, perdamaian, toleransi, dan kemajuan. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi bersama dengan kerja keras seluruh elemen bangsa,” pungkas Haedar Nashir.
