Opening Nyawiji Tosan Aji Balaikota Surakarta.

SOLO, solotrust.com- Festival Nyawiji Tosan Aji 2026 resmi dibuka melalui rangkaian Opening Ceremony yang berlangsung meriah pada Jumat (10/07/2026), di halaman Balaikota Surakarta. Kegiatan yang digelar hingga 12 Juli 2026 ini menjadi wadah pelestarian budaya keris sekaligus mempertemukan para empu, kolektor, pemerhati, dan pecinta tosan aji dari berbagai daerah, khususnya enam paguyuban tosan aji di Soloraya.

Pembukaan diawali dengan penampilan Tari Kolosal dari Sanggar Wayang Gogon, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya, doa bersama, serta pembacaan pantun oleh pembawa acara, Toni dan Indah Wardani.

Acara ini dihadiri oleh Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani, jajaran pemerintah daerah, para sesepuh dan empu tosan aji, ketua paguyuban, tokoh agama, serta pemerhati budaya.

Ketua Panitia, Luki Kristian Rahadi menyampaikan, penyelenggaraan Nyawiji Tosan Aji merupakan bentuk komitmen dalam melestarikan, menjaga, dan merawat  budaya Tosan Aji melalui berbagai kegiatan edukatif dan budaya.

“Event Tosan Aji lahir dari sebuah kesadaran akan pentingnya menjaga, merawat, dan melestarikan warisan leluhur Nusantara”, ucap Ketua Panitia,  “Nyawiji yang berarti menyatu merefleksikan semangat kita bersama untuk menyatukan visi dalam menghargai Tosan Aji, bukan sebagai benda mati melainkan sebuah karya seni adiluhung yang syarat akan seni filosofi, sejarah, dan jati diri bangsa”, Imbuhnya

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani menegaskan, Tosan Aji, khususnya keris merupakan warisan budaya yang harus dijaga bersama agar nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur tetap hidup dan dapat diteruskan kepada generasi mendatang.

“Malam hari ini kita bisa melihat ada warisan, sebuah amanah yang harus terus kita jaga bersama, kita rawat, dan kita kembangkan sehingga apa yang menjadi warisan adiluhung dari para leluhur bisa terus kita lestarikan. Salah satu warisan budaya ini adalah tosan aji, khususnya keris yang bukan hanya memiliki nilai estetika tinggi tetapi juga mengandung filosofi kehidupan, keteladanan, keberanian, kebijaksanaan, serta harmoni antara manusia, alam, dan sang pencipta,”tutur Astrid.

Sementara itu, Perwakilan pengam Budaya juga menambahkan, kegiatan Nyawiji Tosan Aji merupakan salah satu upaya memajukan bangsa melalui pelestarian budaya, Kearifan lokal, dan nilai-nilai keagamaan. Menurutnya, pameran pusaka merupakan tradisi luhur yang telah diwariskan secara turun-temurun dan perlu dijaga keberlangsungannya.

Kemeriahan festival diisi dengan pertunjungan tarian dari sanggar Gogon dan Eyang Lawu. Tari ini berkisah tentang perjalanan keris dari zaman purwacarita yaitu sebelum zaman kerajaan Majapahit berdiri, era Mataram Islam, era Perjanjian Gianti, era kemerdekaan atau dikenal dengan era Kamardikan sampai era sekarang.

Sebagai penanda resmi dibukanya Festival Nyawiji Tosan Aji 2026, dilakukan prosesi simbolis penempaan keris sebanyak tiga kali oleh perwakilan pemerintah daerah, tokoh budaya, dan tokoh agama. Prosesi ini melambangkan komitmen bersama dalam menjaga, merawat, dan melestarikan warisan budaya adiluhung bagi generasi mendatang.

Festival Nyawiji Tosan Aji 2026 juga diharapkan tidak hanya menjadi ajang silaturahmi bagi para pecinta tosan aji, tetapi juga menjadi ruang edukasi budaya yang mampu memperkuat posisi Surakarta sebagai kota budaya. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan sektor UMKM dan ekonomi kreatif berbasis budaya.

(Penulis: Diani, Intan, Rieke)