Otoritas Jasa Keuangan

SOLO, solotrust.com - Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan pemahaman dan pemanfaatan layanan keuangan syariah masih belum optimal. Indeks literasi keuangan syariah tercatat 43,42 persen, sedangkan indeks inklusinya baru menyentuh 13,41 persen, jauh di bawah sektor keuangan nasional secara umum.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo, Eko Hariyanto, menilai angka tersebut menjadi sinyal perlunya kerja bersama untuk memperkuat edukasi, sekaligus memperluas akses layanan keuangan berbasis prinsip syariah.

“SNLIK 2025 menunjukkan bahwa capaian keuangan syariah masih perlu diperkuat. Karena itu, diperlukan kolaborasi yang lebih masif, terstruktur, dan berkelanjutan untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah,” kata dia, awal pekan ini.

Sebagai langkah konkret, OJK Solo berkolaborasi dengan pelaku industri jasa keuangan syariah menggelar Gebyar Ramadan Keuangan (GERAK) Syariah 2026 pada 23 Februari 2026. Kegiatan ini menyasar 200 santri Pondok Pesantren Ta’mirul Islam Solo.

"Program ini menjadi salah satu strategi memperluas jangkauan literasi keuangan syariah di lingkungan pendidikan berbasis keagamaan," terang Eko Hariyanto.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, literasi keuangan syariah bukan sekadar memahami konsep bebas riba atau kebiasaan menabung, namun mencakup kemampuan mengatur keuangan secara cermat, mandiri, dan sesuai nilai-nilai syariah. Dengan pemahaman itu, masyarakat diharapkan mampu membuat keputusan finansial secara produktif dan membawa keberkahan.

Rendahnya angka inklusi di level 13,41 persen menunjukkan penggunaan produk keuangan syariah masih terbatas di masyarakat.

"Karena itu, edukasi dinilai perlu dibarengi dengan pembukaan akses, termasuk melalui produk seperti Simpanan Pelajar (Simpel) Syariah yang diperkenalkan dalam kegiatan ini," kata Eko Hariyanto.

OJK berharap kolaborasi bersama pesantren dan industri jasa keuangan syariah dapat mendorong peningkatan literasi, sekaligus memperluas penggunaan produk keuangan syariah, khususnya di kalangan generasi muda.

Pimpinan Pondok Pesantren Ta’mirul Islam, KH Mohammad Adhim, menambahkan edukasi keuangan menjadi bekal penting bagi santri untuk menghadapi tantangan era digital. Ia menyoroti maraknya pinjaman online ilegal dan investasi bodong yang kerap menyasar masyarakat dengan pemahaman keuangan terbatas.

Dalam agenda GERAK Syariah, para santri juga mendapatkan pemaparan mengenai tugas dan fungsi OJK, ciri-ciri investasi dan pinjaman online ilegal, serta pengenalan berbagai produk jasa keuangan syariah. (add)