Lonjakan kebutuhan pangan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang besar bagi petani lokal untuk masuk dalam rantai pasok pangan perkotaan

SOLO, solotrust.com - Lonjakan kebutuhan pangan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang besar bagi petani lokal untuk masuk dalam rantai pasok pangan perkotaan. Di Kota Surakarta, kebutuhan sayur diperkirakan mencapai 110 hingga 190 ton per hari, berdasarkan data Badan Pusat Statistik dengan konsumsi 1,5–2,5 kg per kapita per minggu dan jumlah penduduk sekira 589 ribu jiwa.
 
Sebagian besar kebutuhan tersebut, sekira 60 hingga 80 persen masih dipasok dari wilayah sekitar, terutama Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Sukoharjo. Meningkatnya kebutuhan dari program MBG memperbesar tekanan terhadap sistem pangan kota. 
 
Badan Gizi Nasional mencatat sebanyak 72 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi di Surakarta dengan kapasitas layanan 2.000 hingga 3.000 penerima manfaat per unit. Program ini diperkirakan menambah kebutuhan sayur sebesar 14 hingga 22 ton per hari atau meningkat sekira sebelas hingga 13 persen.
 
Di tingkat nasional, pelaksanaan MBG juga tengah menjadi sorotan, terutama terkait kualitas pangan, keamanan konsumsi, serta kompleksitas distribusi. Rantai pasok panjang dinilai berpotensi menurunkan kualitas dan kesegaran bahan pangan yang diterima masyarakat. 
 
Dalam konteks ini, penguatan sistem pasok berbasis lokal menjadi semakin relevan sebagai solusi lebih efisien dan berkelanjutan. Kendati demikian, hingga saat ini penyediaan pangan untuk sekolah masih didominasi mekanisme pasar konvensional dengan rantai distribusi panjang. 
 
Kondisi ini menyebabkan keterbatasan keterlacakan produk, rendahnya efisiensi, serta belum optimalnya keterlibatan petani lokal dalam memenuhi kebutuhan pangan institusional. Menurut Direktur Program Yayasan Gita Pertiwi, Titik Eka Sasanti, wilayah penyangga seperti Sukoharjo dan Boyolali memiliki peran kunci dalam memasok pangan ke Kota Solo. 
 
"Melalui pemetaan aliran dan proses produksi, kami mendorong penguatan pertanian regeneratif agar rantai pasok lebih berkelanjutan, sekaligus membuka peluang pasar dan menarik keterlibatan petani muda," kata dia. 
 
Hasil baseline program regenerative agriculture di Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Boyolali melibatkan 84 petani dari 14 kelompok tani menunjukkan kedua wilayah memiliki kapasitas produksi hortikultura kuat. Sukoharjo didukung sistem budidaya intensif dengan potensi adopsi inovasi, sementara Boyolali memiliki keunggulan agroekologi dan diversifikasi komoditas. 
 
Kabupaten Sukoharjo memiliki potensi produksi hortikultura. Sistem produksi terbagi antara lahan sawah dengan pola monokultur dan polikultur, serta pekarangan yang sepenuhnya polikultur dengan intensitas tanam umumnya dua hingga tiga kali per tahun. 
 
Komoditas utama yang ditanam cabai, melon, bawang merah, gambas, dan kacang panjang. Petani di Kabupaten Sukoharjo telah menerapkan prinsip reg agri, di antaranya telah menggunakan pupuk organik kompos sebagai pupuk dasar serta melakukan rotasi tanaman serta sistem polikutur untuk meningkatkan kesuburan tanah, keanekaragaman hayati, mengendalikan hama penyakit, serta mengurangi penggunaan air. 
 
Petani di Kabupaten Sukoharjo telah banyak menggunakan teknologi pertanian untuk meningkatkan efisiensi, serta terdapat keterlibatan anak muda dan perempuan dalam proses budidaya. Profil petani didominasi usia produktif (37–50 tahun sebesar 64,9%), berpendidikan minimal SMP–SMA (±71%). 
 
Sistem produksi masih bergantung pada input eksternal dan praktik budidaya yang belum efisien serta berkelanjutan. Penggunaan pestisida masih dominan bersifat kuratif, sementara biaya produksi didominasi benih, pupuk, dan tenaga kerja. 
 
Sistem distribusi masih didominasi tengkulak (81%), sehingga berdampak pada rendahnya posisi tawar petani dengan harga sebagian besar ditentukan pembeli (45%) atau mengikuti pasar (36%).
 
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo, Bagas Windaryatno bilang, hasil baseline menunjukkan pertanian di Kabupaten Sukoharjo memiliki potensi besar, namun masih menghadapi tantangan, seperti kebergantungan input eksternal, tingginya biaya produksi, dan fluktuasi harga. 
 
"Ke depan, diperlukan penguatan pertanian berkelanjutan, perbaikan sistem distribusi, serta kolaborasi lintas sektor agar petani lebih mandiri, berdaya saing, dan mampu menarik generasi muda ke sektor pertanian,” ujarnya. 
 
Hasil baseline di Kabupaten Boyolali memiliki potensi kuat sebagai pemasok pangan bagi Surakarta. Dari sisi produksi, praktik budidaya masih bersifat tradisional dengan tingkat mekanisasi rendah (±81% manual) dan belum berbasis permintaan pasar, sehingga produksi dan harga cenderung fluktuatif. 
 
Komoditas utama dibudidayakan berupa cabai, bawang merah, tomat, wortel, dan brokoli. Petani di Boyolali telah menerapkan prinsip reg agri dengan menggunakan pupuk kendang sebagai pupuk kompos, mengurangi penggunaan pupuk kimia, penggunaan sistem terasering berbasis polikultur. 
 
Profil petani didominasi usia di atas 35 tahun (±67%) dengan tingkat pendidikan dasar (±31%), berdampak pada rendahnya adopsi inovasi dan terbatasnya regenerasi. Kebergantungan pada input eksternal masih tinggi, termasuk benih (±67%) dan pestisida (±68%) yang digunakan secara kuratif. 
 
Kelemahan paling krusial terletak pada rantai pasok, di mana ±84% produk dipasarkan melalui tengkulak dan ±56% harga ditentukan pembeli. Minimnya penanganan pascapanen serta panjangnya rantai distribusi menyebabkan rendahnya nilai tambah di tingkat petani.
 
Optimalisasi potensi produksi di Sukoharjo dan Boyolali dinilai mampu menjadi solusi strategis dalam menjawab lonjakan kebutuhan pangan kota. Integrasi langsung antara petani lokal dan SPPG di Surakarta tidak hanya membuka akses pasar lebih stabil, namun juga berpotensi mempersingkat rantai distribusi, meningkatkan kualitas dan kesegaran pangan, serta memperkuat pendapatan petani.
 
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surakarta, Wahyu Kristina, mengutarakan kontribusi urban farming di perkotaan saat ini masih terbatas, sehingga ketahanan pangan masih sangat bergantung pada wilayah penyangga seperti Sukoharjo dan Boyolali. Karena itu, perlu didorong kemandirian pangan melalui kegiatan menanam di tingkat rumah tangga, sekaligus memastikan keamanan pangan melalui pengawasan residu pestisida. 
 
"Ke depan, integrasi Kelompok Wanita Tani dengan program Makan Bergizi Gratis serta pengembangan demplot edukatif menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan, sekaligus menumbuhkan minat generasi muda di sektor pertanian," ungkapnya. 
 
Lebih jauh, pendekatan ini dapat menjadi model penguatan sistem pangan lokal yang tidak hanya responsif terhadap kebutuhan konsumsi, namun juga mampu menjawab tantangan nasional dalam pelaksanaan program MBG melalui sistem lebih efisien, transparan, dan berkelanjutan. (add)