Pemilik Brian Dadakan Project, Abrian Ginanjar, sedang memasang instalasi di salah satu Bajaj Food Truck pesanannya, di Workshop Jalan Puntadewa VII, Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. (Foto.istimewa / Elvan )

SOLO, solotrust.com – Persaingan mendapatkan lokasi strategis untuk berjualan masih menjadi tantangan bagi banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kondisi tersebut mendorong lahirnya berbagai inovasi, salah satunya konsep food truck berbasis bajaj yang menawarkan fleksibilitas bagi pedagang dalam menjangkau pelanggan.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh Brian Dadakan Project, sebuah workshop custom bajaj yang berlokasi di Jalan Puntadewa VII, Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Di tempat ini, kendaraan roda tiga yang identik sebagai alat transportasi disulap menjadi food truck dengan desain unik dan fungsional untuk mendukung berbagai jenis usaha.

Pemilik Brian Dadakan Project, Abrian Ginanjar, menuturkan ide membuat bajaj food truck berawal dari pengalaman pribadinya saat merintis usaha kuliner pecel di Jakarta. Saat itu, ia kesulitan mendapatkan lokasi tetap untuk berjualan, sementara biaya sewa ruko dinilai cukup tinggi.

“Awalnya saya sendiri yang memakai bajaj untuk usaha kuliner. Karena lebih fleksibel dan tidak perlu menyewa tempat yang mahal. Ternyata banyak yang tertarik dan meminta dibuatkan konsep serupa,” ujar Abrian saat ditemui di workshopnya.

Berbekal kreativitas dan pengalaman tersebut, pemilik akun Instagram brian_dadakanproject bersama rekannya mulai mengembangkan jasa custom bajaj untuk berbagai kebutuhan usaha. Tidak hanya sebagai food truck, kendaraan tersebut juga dimodifikasi menjadi gerobak usaha bergerak yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.

Menurut Abrian, harga satu unit bajaj food truck dibanderol mulai Rp28 juta. Nilai tersebut dapat berubah tergantung tingkat kesulitan desain dan spesifikasi yang diinginkan pemesan.

“Untuk harga mulai sekitar Rp28 juta. Kalau ada permintaan desain khusus atau kebutuhan tertentu, tentu menyesuaikan tingkat pengerjaannya,” jelasnya.

Dalam kurun dua tahun terakhir, permintaan bajaj custom terus meningkat. Produk hasil workshopnya tidak hanya digunakan di wilayah Jawa Tengah, tetapi juga telah dikirim ke berbagai daerah di luar Pulau Jawa.

Abrian menyebut, dalam satu bulan pihaknya mampu menyelesaikan hingga enam unit bajaj custom. Tren usaha kuliner dan bisnis berbasis kendaraan bergerak yang semakin berkembang turut menjadi faktor meningkatnya permintaan.

Dengan konsep yang unik, fleksibel, dan relatif terjangkau, bajaj food truck kini menjadi alternatif menarik bagi pelaku UMKM yang ingin memulai usaha tanpa harus bergantung pada lokasi tetap. Selain membantu efisiensi biaya operasional, konsep ini juga memungkinkan pelaku usaha lebih dekat dengan konsumen di berbagai lokasi. (elv)