Menteri Agama RI luncurkan program Gemah KUA di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Semarang Selatan, Jumat (5/6/2026).

SEMARANG, solotrust.com – Suasana haru dan penuh kebahagiaan mewarnai kegiatan Bimas Islam Mantu yang digelar di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Semarang Selatan, Jumat (5/6/2026). Kegiatan tersebut semakin istimewa dengan kehadiran Menteri Agama RI, KH Nasaruddin Umar, yang turut menyaksikan prosesi akad nikah sekaligus memberikan nasihat pernikahan kepada pasangan pengantin.

Dalam kesempatan itu, Menteri Agama juga meluncurkan program Gemah KUA (Gerakan Jumat Aman, Sehat, Resik, Indah, Asri) yang diinisiasi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama.

Salah satu pasangan yang berbahagia dalam acara tersebut adalah Brian Fatihatul Syifa (27) dan Ajeng Dwi Pratmawati (26), yang melangsungkan akad nikah di hadapan Menteri Agama beserta keluarga dan tamu undangan.

Dalam nasihatnya, Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan atau proses administrasi negara, melainkan peristiwa spiritual yang memiliki makna mendalam.

"Pernikahan adalah ibadah yang sangat sakral. Di dalamnya ada tanggung jawab, komitmen, dan pengabdian yang harus dijaga bersama sepanjang kehidupan rumah tangga," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Menag juga menegaskan komitmen pemerintah untuk menghadirkan layanan pernikahan yang mudah, murah, dan khidmat melalui Kantor Urusan Agama (KUA).

Menurutnya, masih banyak generasi muda yang menunda pernikahan karena terbebani anggapan bahwa biaya pernikahan harus mahal.

"Negara hadir untuk melayani warga. Melalui KUA, pernikahan bisa berlangsung dengan mudah, khidmat, dan sah secara agama maupun negara. Tidak ada biaya apa pun jika menikah di KUA sesuai ketentuan yang berlaku," tegas Nasaruddin Umar.

Selain membahas pernikahan, Menteri Agama turut memperkenalkan konsep Eko-Teologi yang saat ini menjadi salah satu program prioritas Kementerian Agama. Melalui gerakan tersebut, pasangan pengantin baru didorong untuk menanam pohon sebagai simbol tanggung jawab terhadap kehidupan dan kelestarian lingkungan.

Menurut Nasaruddin Umar, hubungan manusia dengan alam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan beragama.

"Langit adalah suami dan bumi adalah istri. Pohon-pohon yang tumbuh merupakan anak kandung dari langit dan bumi. Karena itu, menanam pohon menjadi simbol bagaimana manusia belajar merawat kehidupan dan menjaga keseimbangan alam," katanya.

Ia menjelaskan, gerakan tersebut memiliki potensi besar apabila dilakukan secara masif. Dengan jumlah pernikahan yang mencapai sekitar 2,2 juta pasangan setiap tahun di Indonesia, jutaan pohon baru dapat tumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

"Kementerian Agama ingin ikut menghidupkan kembali paru-paru dunia. Tanpa alam yang sehat, manusia juga tidak akan sehat. Hubungan manusia, alam, dan Tuhan harus berjalan selaras," ujarnya.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, mengatakan peluncuran Gemah KUA menjadi bagian dari transformasi layanan KUA agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat pencatatan pernikahan, tetapi juga pusat pelayanan keagamaan yang nyaman, sehat, dan ramah lingkungan.

"Kami ingin KUA menjadi ruang pelayanan publik yang lebih baik, sekaligus menjadi pusat edukasi keluarga dan penguatan nilai-nilai keagamaan di masyarakat," katanya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, jajaran Kementerian Agama Semarang Raya, unsur Forkopimcam Semarang Selatan, serta keluarga besar para mempelai yang turut menyaksikan momen istimewa tersebut.(cha)