Pagelaran Wayang Potehi di Klenteng Tien Kok Sie kawasan Pasar Gede, Kota Solo.

SOLO, solotrust.com- Pagelaran Wayang Potehi kembali digelar di Klenteng Tien Kok Sie kawasan Pasar Gede, Kota Solo. Pertunjukkan budaya yang berlangsung mulai 1 hingga 12 Agustus 2026 ini menjadi salah satu upaya melestarikan seni tradisional Tionghoa yang telah lama hidup berdampingan dengan budaya lokal di Indonesia.

Selama penyelenggaraan, masyarakat dapat menyaksikan pertunjukkan Wayang Potehi setiap hari dalam dua sesi. Sesi pertama pada pukul 17.00 WIB hingga 19.00 WIB dan sesi kedua dimulai pukul 19.30 WIB sampai 21.30 WIB. Seluruh pertunjukkan terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya.

Wayang Potehi merupakan seni pertunjukan boneka tangan khas Tionghoa yang telah berkembang di Nusantara sejak ratusan tahun lalu. Nama "Potehi" berasal dari tiga kata dalam dialek Hokkien (salah satu cabang dari rumpun bahasa Tionghoa), yaitu “Pou” yang berarti kain, “Te” yang berarti kantong, dan “Hi” yang berarti wayang atau pertunjukan. Ketiga istilah tersebut menggambarkan boneka tangan berbahan kain yang dimainkan langsung oleh seorang dalang.

Dalam pementasannya, Wayang Potehi dimainkan dengan cara memasukkan boneka ke tangan layaknya sarung tangan, kemudian digerakan menggunakan jari-jari oleh seorang dalang. Cerita yang dibawakan umumnya mengangkat legenda, sejarah, maupun kisah kepahlawanan klasik Tionghoa yang sarat akan pesan moral.

Pagelaran Wayang Potehi tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga media edukasi budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi Tionghoa kepada masyarakat luas sekaligus menjadi media penyampaian nilai-nilai moral. Kehadirannya di kawasan heritage Pasar Gede semakin memperkuat citra Solo sebagai kota yang menjunjung tinggi keberagaman budaya dan toleransi antaretnis.

Melalui penyelenggaraan Pagelaran Wayang Potehi ini, masyarakat diajak untuk mengenal lebih dekat salah satu warisan budaya yang masih lestari hingga kini. Diharapkan, seni pertunjukan tradisional ini terus mendapat apresiasi dari generasi muda sehingga keberadaannya tetap terjaga sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Penulis: Dian, Intan, Rieke