Mahasiswa KKN Kelompok 60 Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) menggelar program Kuisioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) pada anak dan Deteksi Dini Demensia pada Lansia di Padukuhan Ngepos, Kelurahan Ngeposari, Kecamatan Semanu, Gunung Kidul, Yogyakarta. (Foto: Kelompok 60 KKN PPM UMBY)
GUNUNG KIDUL, solotrust.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 60 Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) menggelar program Kuisioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) pada anak dan Deteksi Dini Demensia pada Lansia di Padukuhan Ngepos, Kelurahan Ngeposari, Kecamatan Semanu, Gunung Kidul, Yogyakarta. Kegiatan ini dilakukan dalam upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat
Pemilihan program KPSP ini berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan tokoh masyarakat setempat yang telah dilakukan bersama rekan kelompok, di mana kegiatan posyandu di Padukuhan Ngepos belum melakukan pemerikasan KPSP secara mandiri.
Penanggung Jawab Program KPSP dan Dimensia, Atika Salwa, mengatakan pemeriksaan KPSP digunakan untuk memeriksa kemampuan gerak kasar, gerak halus, kemampuan bahasa dan bicara, serta sosialisasi dan kemandirian pada anak.
"Sehingga kedua program pemeriksaan ini membantu memantau perkembangan anak-anak posyandu dan lansia (lanjut usia) di Padukuhan Ngepos,” ungkapnya.
Program ini berlangsung dalam dua tahap, di mana dilaksanakan pada 1 Agustus 2024 bersamaan dengan kegiatan rapat bersama masyarakat setempat. Tahap kedua berlangsung pada 3 Agustus 2024 saat kegiatan posyandu bayi dan lansia dilakukan.

Bukan hanya memberikan edukasi secara langsung kepada masyarakat, mahasiswa KKN PPM UMBY Kelompok 60 juga praktik langsung melalui penggunaan alat skrining untuk mendeteksi adanya keterlambatan perkembangan pada anak.
Mereka juga memperkenalkan tanda-tanda awal demensia pada lansia, pentingnya deteksi dini, serta cara-cara mengurangi risiko terkena demensia melalui gaya hidup sehat.
Para lansia juga menjalani serangkaian tes sederhana dirancang untuk mengidentifikasi gejala awal demensia. Tes ini meliputi pemeriksaan mobilitas, kognitif, kondisi mental, dan pertanyaan merujuk pada gejala awal demensia. Hasil dari tes ini kemudian dianalisis untuk menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lebih lanjut di fasilitas kesehatan.
Menurut salah seorang tua balita Padukuhan Ngepos, kegiatan ini bagus sekali. Ia pun berharap kegiatan seperti ini bisa berkelanjutan.
"Baru kali pertama di sini diadakan program screening seperti ini, sangat bermanfaat, pelayanannya juga bagus. Harapannya ke depan waktu posyandu ada lagi kegiatan-kegiatan seperti ini dan lainnya,” ujarnya.

Salah satu warga yang merupakan lansia ikut berpartisipasi pada kegiatan ini juga menyambut baik. Ia merasa kegiatan yang dilakukan memberi dampak positif kepada masyarakat Ngepos untuk turut berpartisipasi dalam program lainnya.
Deteksi dini terkait perkembangan anak, menurut petugas posyandu Padukuhan Ngepos sangatlah penting dan perlu untuk selalu dipantau. Begitu pula pada lansia perlunya untuk selalu memulai rutinitas hidup sehat.
"Besar harapan kami dari warga masyarakat semoga setelah mendapat pendeteksian awal menjadi lebih berhati-hati dan menjaga pola hidup sehat serta lebih terkontrol,” ujarnya.
Adanya edukasi dan pemeriksaan awal ini diharapkan keterlambatan perkembangan pada anak dapat segera diidentifikasi dan ditangani, serta risiko demensia pada lansia dapat diminimalisasi.
Program ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain untuk melakukan kegiatan serupa, sehingga kualitas kesehatan masyarakat dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan.
*) Penulis: Anisah Tri Wahyuningsih (Kelompok 60 KKN PPM UMBY XLV) & Alan Dwi Arianto
