Pemutaran perdana film Cerita Mereka produksi Jalak Lawu Studio digelar di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Jumat (30/01/2026). (Foto: Dok. solotrust.com/Mutiara Agustina)
SOLO, solotrust.com - Pemutaran perdana film ‘Cerita Mereka’ produksi Jalak Lawu Studio digelar di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Jumat (30/01/2026). Jalak Lawu Studio bekerja sama dengan Omah Kreatif Art Turah menyajikan sebuah film drama keluarga yang menyoroti relasi saudara dan relasi anak dengan ibunya.
Film ‘Cerita Mereka’ disutradarai Subiyanto, mengisahkan tiga bersaudara yang telah berkeluarga, memiliki anak, dan tinggal di kota berbeda. Sebagaimana keluarga umumnya, karena kesibukan masing-masing, mereka jarang pulang ke rumah.
Situasi berubah ketika ibu mereka jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit, memaksa ketiganya untuk kembali ke rumah dalam waktu singkat. Sang ibu selama ini hidup seorang diri. Dalam pertemuan yang terbatas itu, mereka harus menentukan keputusan penting terkait perawatan ibu mereka.
Pemutaran perdana film ‘Cerita Mereka’ di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah dilanjutkan dengan diskusi, mengulas secara mendalam tema keluarga, tanggung jawab anak, serta pendekatan visual yang digunakan dalam film. Diskusi menghadirkan para pemain, kru, serta akademisi dan praktisi seni film, di antaranya Fajar Aji (akademisi),Yogi Swara Manitis Aji (aktor), Hananta Kusuma WP (sinematografer), dan Purapura Props (art director)
Dalam pengantar diskusi, salah satu pembicara menyampaikan pengalaman personal unik karena pada momen menonton film tersebut, dirinya dipertemukan dengan tiga generasi sekaligus, baik sebagai penonton maupun dalam jejaring pertemanan yang terlibat di balik layar. Ia menyebut, situasi itu memperkaya cara pandangnya dalam membaca film, tidak hanya sebagai karya artistik, namun juga refleksi relasi sosial dan keluarga.
“Film ini menghadirkan refleksi situasional yang sangat dilematis. Ada pertanyaan mendasar, apakah seorang anak harus membuat keadaan menjadi lebih baik dengan mengorbankan kebingungannya sendiri,” ucapnya.
‘Cerita, Mereka’ berkisah tentang dinamika sebuah keluarga, dihadapkan pada keputusan sulit terkait perawatan ibu. Anak-anak harus memilih antara meninggalkan rumah atau tetap tinggal untuk merawat orang tua. Dilema itu memunculkan emosi kehilangan, rasa berat untuk berpisah, serta ketegangan komunikasi di antara anggota keluarga.
Dari sisi sinematografi, film ini dinilai kuat dalam membangun metafora visual. Penggunaan sudut kamera berulang, terutama pada bagian atap rumah, dibaca sebagai simbol fondasi keluarga yang tidak stabil. Adegan gelas pecah, disunting dengan pemotongan gambar ke bagian atas rumah, dianggap merepresentasikan rapuhnya struktur komunikasi dalam keluarga.
“Rumah dalam film ini tidak digambarkan dalam kondisi stabil. Secara metaforis, itu menunjukkan bahwa relasi antaranggota keluarga sedang berada dalam situasi stabil dan membutuhkan saluran komunikasi yang sehat,” kata pembicara tersebut.
Aspek tata suara dan penyuntingan juga mendapat perhatian. Penempatan musik menjelang akhir film disebut menjadi salah satu kekuatan utama, terutama pada adegan yang menggambarkan kebingungan tokoh Agung ketika harus memilih mengikuti kakak-kakaknya pergi atau tetap tinggal di rumah untuk merawat ibu.
Pemeran Agung (Yogi) mengungkapkan keterlibatannya dalam film ini berangkat dari ketertarikannya pada proses produksi yang nilainya idealis dan sehat. Ia menyoroti penggunaan bahasa Jawa sebagai pilihan artistic, membuat cerita terasa dekat dengan realitas sehari-hari.
“Ceritanya tentang keluarga dan relasi dengan ibu. Itu sangat dekat dengan pengalaman banyak orang. Proses produksinya juga jelas dan manusiawi, sehingga saya tertarik untuk terlibat,” kata dia.
Sementara itu, penata kamera Hananta menjelaskan, pendekatan visual film berangkat dari eksplorasi ruang-ruang rumah yang menjadi pusat aktivitas keluarga. Kamera diposisikan seolah menjadi mata penonton yang mengamati kehidupan keluarga secara natural, tanpa perlakuan visual berlebihan.
Diskusi juga menghadirkan pandangan dari tim artistik dan produser yang menekankan keterbatasan produksi tak menghalangi upaya menghadirkan kedalaman emosi cerita. Menurut mereka, kesederhanaan justru menjadi kekuatan utama film ini dalam merepresentasikan realitas sosial.
Menutup diskusi, para narasumber sepakat ‘Cerita Mereka’ menegaskan satu pesan penting, yakni konflik keluarga tidak selalu memiliki jalan keluar yang mudah. Komunikasi menjadi kunci, meski sering kali penuh kerumitan. Film ini dinilai berhasil menyampaikan pesan tersebut secara jujur melalui narasi dan bahasa visual kuat..
*) Reporter: Mutiara Agustina/Anastasya Zefanya)
