Sebuah masjid tetap kokoh berdiri di tengah terjangan banjir bandang di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. (Foto: esdm.go.id)

AGAM, solotrust.com - Bersandar pada bongkahan batu besar, sebatang pohon sepanjang dua meter mengayun pelan. Menyisakan pucuk ranting dan dedaunan kecokelatan berhias lumpur. Dua bocah di Kampung Balai Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat (Sumbar) menapaki sisa luapan air banjir di sekitar rumahnya, Rabu (03/12/2025) pagi.

Tak ada senyuman dan keceriaan tergurat di wajahnya. Surau yang setiap sore ditempati anak-anak untuk mengaji terkikis habis, hanya menyisakan hamparan lumpur yang belum mengering, penuh potongan kayu, serta ranting berserakan. Kini lokasi itu menjadi daratan kusam tak ramah anak.

"Saya trauma. Tingginya sepohon kelapa," kata anak yang tengah duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar (SD), dilansir dari laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, esdm.go.id.

Ia seolah bingung atas apa yang dialaminya. Beberapa teman sebayanya masih dalam proses pencarian, bahkan dipastikan terbawa derasnya aliran air bercampur pasir, lumpur, serta batu.

Warga Kampung Balai menceritakan luapan itu terjadi begitu cepat. Menurut Rika (42), pemilik warung kelontong, gelombang air datang dalam hitungan menit.

"Empasan gelombang banjir datang dua kali, nggak sampai lima menit," kenang pemilik warung kelontong itu.

Ia bersyukur warung kayunya tak hanyut, padahal surau dan rumah persis di samping tempat dagangannya terkena terjangan banjir. Saat deru air mulai mengaum, Rika bergegas cepat membawa anaknya ke dataran tinggi.

Ia tak sempat lagi memikirkan barang-barang di rumah. Satu jam ia berlari mencari lokasi perlindungan. Mereka selanjutnya mengungsi selama dua malam sebelum kembali menengok kondisi rumah.

Hujan memang turun mengguyur Jorong Kayu Pasak sepekan terakhir sebelum bencana, bahkan sempat selama sehari tak kunjung berhenti.

"Pas dateng air (banjir)-nya bukan cokelat lagi, tapi hitam," jelas Rika yang memiliki dua anak.

Sebelum bencana hidrometereologi tiba, warga sempat mendengar gemuruh air mirip alunan talempong agung selama tiga hari, sejenis seni musik Minang yang dimainkan saat malam acara pernikahan.

"Mungkin ini suara air dari hulu (Danau Maninjau). Kalau kata nenek moyang kami, ular naga mau lewat," jelas Meliyanti seumuran Rika.

Derasnya luapan air menghantam pemukiman warga di tepi sungai. Tiga kampung lenyap seketika. Lebar sungai semula 25 meter membesar sampai 250 meter.

Akibatnya, 1.511 jiwa di Palembayan terpaksa mengungsi dan menelan korban jiwa lebih kurang 165 orang. Sementara seratus orang lebih masih proses pencarian.