Wakil Menteri Luar Negeri RI, Muhammad Anis Matta hadir sebagai pembicara di Seminar Internasional UIN Surakarta, Senin (19/01/2026). Dalam kesempatan itu, ia mendorong Indonesia menjadi peacemaker dunia. (Dok. Humas UIN Surakarta)

SOLO, solotrust.com - Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Republik Indonesia, Muhammad Anis Matta, hadir sebagai pembicara dalam Seminar Internasional yang digelar Fakultas Syariah (Fasya) UIN Raden Mas Said Surakarta, Senin (19/01/2026). Kegiatan ini berlangsung di Ruang Teater Gedung SBSN UIN Surakarta, Kampus Pucangan, Kartasura, dan diikuti secara luring serta daring oleh akademisi dan tokoh dari dalam maupun luar negeri.
 
Seminar internasional tersebut mengangkat tema ‘The Middle East and the Emerging Global Order: Challenges, Transitions, and the Strategic Role of Middle Powers’. Hadir dalam kegiatan ini rektor UIN Surakarta, para wakil rektor, dekan Fasya, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa. Seminar berlangsung selama setengah hari dan berlangsung dinamis dengan antusiasme tinggi peserta, terutama saat sesi diskusi.
 
Dalam orasi ilmiahnya, Anis Matta memaparkan strategi dan pandangan pemerintah dalam menghadapi dinamika global, khususnya posisi Indonesia di tengah perubahan tatanan dunia dan dunia Islam. Ia menilai saat ini dunia tidak lagi dikelola berdasarkan aturan yang kuat.
 
“Sebetulnya Indonesia memiliki potensi besar menjadi pusat perdamaian dunia, namun kondisi global saat ini belum sepenuhnya memungkinkan,” ujarnya dalam siaran pers diterima solotrust.com, Senin (19/01/2026).
 
Menurut Anis Matta, terdapat setidaknya tiga ancaman besar dihadapi dunia ke depan, yakni potensi perang global, gelombang revolusi di berbagai kawasan, serta krisis ekonomi global berkepanjangan. Dalam situasi tersebut, Anis Matta menegaskan pentingnya Indonesia untuk tetap berada pada posisi nonblok dan tidak memihak salah satu kekuatan global.
 
Wamen juga mendorong Indonesia agar berperan aktif sebagai peacemaker dunia, namun dengan catatan Bangsa Indonesia harus terlebih dahulu menjadi kuat secara internal. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama sama membangun kekuatan ekonomi dan peradaban, serta menjadikan Indonesia sebagai pusat kebaikan global.
 
“Jika kita ingin Indonesia menjadi negara besar, maka seluruh rakyatnya harus berpikir bagaimana hal hal baik bisa berputar di Indonesia, sebagaimana kejayaan Dinasti Abbasiyah dan Islam di Andalusia,” pungkasnya. (Arien Gita Maharani)