Seminar dalam rangka haul Mangkunegoro I di Ruang Teater Gedung SBSN kompleks UIN Surakarta kampus Pucangan Kartasura, Kamis (04/12/2025)
SUKOHARJO, solotrust.com - Nama Raden Mas Said yang digunakan sebagai nama satu-satunya kampus Islam negeri di wilayah Soloraya; sejatinya adalah nama asli dari Mangkunegoro I, pendiri Kadipaten Mangkunegaran. Oleh karenanya, sangatlah wajar jika dalam rangka haul tahun ini juga disemarakkan UIN Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta).
Bertempat di Ruang Teater Gedung SBSN kompleks UIN Surakarta kampus Pucangan Kartasura, Kamis (04/12/2025), rektor dan wakil rektor, jajaran dekanat, serta dosen dan sivitas akademika lainnya hadir di acara seminar dalam rangka haul Mangkunegoro I. Mewakili Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunegoro X, seminar ini dihadiri Kanjeng Pangeran Haryo Tjuk Susilo, MPA selaku Pengageng Kawedanan Mandrapura Mangkunegaran.
Bertajuk ‘Legasi Menjadi Muslim Jawa’, kegiatan seminar ini bertujuan mengangkat tentang teladan yang diberikan Raden Mas Said yang juga dikenal sebagai Pangeran Samber Nyawa, salah satu pemimpin pasukan Muslim yang ditakuti oleh penjajah, khususnya Belanda.
Memberikan sambutan sekaligus membuka acara, Rektor UIN Surakarta, Prof Toto Suharto mengawali dengan kebiasaan melakukan manakib dalam tradisi haul.
"Manakib adalah membacakan biografi dari seorang tokoh atau ulama yang dijadikan sebagai salah satu tradisi spiritual," kata Toto Suharto menjelaskan tujuan dari manakib adalah meneladani kisah hidup seorang tokoh sebagai bentuk tabarukan dan bukti kecintaan kepada tokoh tersebut.
Ia kemudian melanjutkan hasil telaahnya dari berbagai sumber tertulis tentang Raden Mas Said dan sepak terjangnya dalam menghadapi Belanda, serta berbagai hal dalam melakukan praktik beragama sebagai seorang Muslim, sekaligus seorang pemimpin atau dalam istilah jawa disebut panatagama.
Dari sekian hasil telaahnya, Toto Suharto sangat tertarik dengan semboyan disampaikan Pangeran Sambernyawa, yakni ‘tiji tibeh’ yang memiliki makna mati siji mati kabeh (mati satu, mati semua) dan mukti siji mukti kabeh (hidup mulia satu, hidup mulia semua). Hal itu mengandung maksud, baik duka maupun suka harus dijalani bersama-sama.
Rektor juga sangat mengapresiasi pemberian gelar pahlawan nasional kepada Raden Mas Said yang telah berkiprah dalam kehidupannya bukan untuk kepentingannya sendiri, namun semua hal dilakukan untuk kepentingan bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat penuh atas dirinya. Menutup sambutannya, Toto Suharto memberikan beberapa hal sebagai refleksi dari haul Mangkunegoro I kali ini.
"Apa pun posisi kita, menjadi Muslim yang saleh adalah suatu keharusan," lanjutnya.
Muslim saleh dimaksud adalah yang juga menjunjung nilai-nilai budaya lokal. Rektor juga mengingatkan tentang menjadi sufi modern tetap berpegang teguh pada Alquran yang membalut semua hal dengan kejernihan hati.
"Hidup muslim tidak bisa menjauhkan diri dari masjid karena masjid adalah awal dari peradaban kita." pungkas Toto Suharto.
