Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mulai menyiapkan langkah strategis untuk penyelenggaraan ibadah haji 1448 H/2027 M. Salah satunya melalui pembahasan pemanfaatan Bandara Internasional Dhoho Kediri sebagai embarkasi haji baru
SURABAYA, solotrust.com - Di tengah fase akhir proses pemulangan jemaah haji Indonesia 1447 H/2026 M, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mulai menyiapkan langkah strategis untuk penyelenggaraan ibadah haji 1448 H/2027 M. Salah satunya melalui pembahasan pemanfaatan Bandara Internasional Dhoho Kediri sebagai embarkasi haji baru.
Pembahasan itu dilakukan dalam Rapat Koordinasi Persiapan Bandara Dhoho Kediri sebagai Embarkasi Haji yang digelar di Asrama Haji Kelas I Surabaya, tengah pekan ini. Rapat dipimpin Menteri Haji dan Umrah RI (Menhaj), Moch Irfan Yusuf bersama jajaran pimpinan Kemenhaj, serta dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Kediri, Otoritas Bandara Wilayah Surabaya, dan para pemangku kepentingan terkait.
Menhaj menegaskan, persiapan penyelenggaraan haji harus dilakukan jauh sebelum musim haji dimulai agar setiap kebijakan benar-benar memberikan manfaat bagi jemaah.
“Semua kebijakan yang kita ambil harus berorientasi pada kemaslahatan jemaah dan efisiensi penyelenggaraan haji,” tegasnya, dilansir dari laman resmi Kementerian Haji dan Umrah, kemenhaj.go.id, Jumat (03/07/2026).
Menurut Moch Irfan Yusuf, pengembangan embarkasi baru bukan sekadar menambah fasilitas, namun menjadi bagian dari upaya membangun sistem pelayanan haji semakin berkualitas.
“Apa yang kita bangun bukan hanya fasilitas, tetapi sistem pelayanan haji semakin baik. Seluruh persiapan harus dilakukan secara matang agar penyelenggaraan haji 2027 menghadirkan pelayanan lebih mudah, lebih efisien, dan semakin berpihak kepada jemaah,” ujarnya.
Dalam rapat, Direktur Jenderal Pelayanan Haji, Ian Heriyawan memaparkan hasil pembahasan awal mengenai potensi Bandara Dhoho sebagai embarkasi haji baru. Menurutnya, langkah itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas layanan, sekaligus mencari alternatif operasional lebih efisien.
Saat ini, penerbangan haji Embarkasi Surabaya masih menghadapi tantangan karena Bandara Juanda belum dapat melayani pesawat berbadan lebar Boeing 777-300. Akibatnya, penerbangan masih menggunakan Airbus A330-300 yang memerlukan technical landing untuk pengisian bahan bakar saat keberangkatan maupun kepulangan sehingga berdampak pada meningkatnya biaya operasional.
“Bandara Dhoho memiliki potensi menjadi embarkasi haji baru, namun seluruh aspek pendukung harus dipastikan siap agar pelayanan kepada jemaah dapat berjalan optimal,” jelas dia.
Sementara itu, Plt Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jawa Timur, Mohammad As’Adul Anam, menyampaikan berdasarkan proyeksi penyelenggaraan haji 2027, Embarkasi Dhoho diperkirakan akan melayani 10.548 jemaah dari wilayah eks Karesidenan Kediri dan Madiun, termasuk usulan penambahan Kabupaten Jombang dan Kabupaten Bojonegoro.
“Penambahan Kabupaten Jombang dan Kabupaten Bojonegoro didasarkan pada pertimbangan jarak tempuh yang lebih dekat menuju Bandara Dhoho dibandingkan Embarkasi Surabaya. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan jemaah, sekaligus mendukung pemerataan layanan embarkasi haji di Jawa Timur,” bebernya.
Pembahasan ini menjadi bagian dari komitmen Kemenhaj untuk menyiapkan penyelenggaraan ibadah haji 2027 sejak dini. Melalui sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, otoritas kebandarudaraan, dan seluruh pemangku kepentingan, Kemenhaj berharap setiap kebijakan dihasilkan mampu menghadirkan layanan haji semakin efektif, efisien, serta berorientasi pada kenyamanan dan kemaslahatan jemaah.
