Perhelatan International Mask Festival (IMF) 2025 sukses digelar di Pendhapi Gede Balai Kota Solo pada 14 hingga 15 November 2025
SOLO, solotrust.com - Perhelatan International Mask Festival (IMF) 2025 sukses digelar di Pendhapi Gede Balai Kota Solo pada 14 hingga 15 November 2025. Festival seni topeng berskala internasional kembali menekankan tiga poin utama, yakni pelestarian warisan tradisi, peningkatan dialog antarbudaya, serta membuka ruang kreasi untuk seniman dari berbagai negara.
Rangkaian IMF diawali dengan konferensi pers pada 13 November 2025, menghadirkan Ketua Pelaksana IMF 2025 Putri Pramesty Wigaringtyas, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo Siti Khotimah, serta delegasi dari Bali dan Myanmar.
Ketua Pelaksana IMF 2025, Putri Pramesty Wigaringtyas, menjelaskan IMF kembali masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN). Pencapaian ini menunjukkan konsistensi penyelenggaraan IMF selama 12 tahun. Hal itu juga memperkuat posisi Solo sebagai kota budaya.
“Tahun ini IMF kembali menjadi bagian dari KEN. Membuktikan bahwa IMF mampu menghadirkan ruang kreatif bagi para seniman, sekaligus memperlihatkan konsistensi festival selama 12 tahun penyelenggaraannya,” terang Putri Pramesty Wigaringtyas.
Mengusung tema Awesome Mask, IMF 2025 menekankan makna topeng bukan sekadar warisan tradisional, melainkan medium artistik mencerminkan identitas, nilai budaya, dan perjalanan suatu masyarakat. Pesan ini diwujudkan lewat serangkaian pertunjukan, diskusi, dan pameran melibatkan 21 delegasi dari Indonesia maupun mancanegara, seperti Korea Selatan, Malaysia, Taiwan, Hong Kong, hingga Myanmar.
Begitu dibuka pada 14 November lalu, suasana festival langsung terasa penuh energi. Kawasan Pendhapi Gede Balai Kota Solo dipadati pengunjung dari berbagai kalangan yang terlihat antusias menikmati segala hal yang ada di festival tersebut. Mulai dari pameran topeng internasional, hingga sorotan lampu bernuansa etnik.
Panggung pertunjukan pun diisi sejumlah komunitas seni, seperti Semarak Candra Kirana Art Center, Rumah Seni Tegal, Ruas Riau, Komunitas Among Roso, dan Langenpraja Mangkunegaran. Menariknya penampilan pertama di IMF delegasi Myanmar, Khin Mon Thu, turut menjadi salah satu daya tarik pada malam itu.
IMF juga memfasilitasi kegiatan lain, seperti workshop pembuatan topeng, bazar kuliner dan kerajinan, serta ruang diskusi praktisi lintas negara. Sorotan utama lain yang dinanti adalah penampilan Banda Neira sebagai guest star. Ratusan penonton berhasil terpukau oleh penampilan duo tersebut.
Keberagaman pertunjukan dari delegasi luar negeri turut memperkaya narasi festival IMF 2025. Contohnya, Chinese Youth Goodwill Association Taiwan yang memukau pengunjung dengan konsep permainan cahaya dan bayangan. Di lain sisi, Aswolo Wonosobo menyuguhkan karya ‘Tetenger’, mengangkat filosofi empat watak manusia melalui topeng Lengger. Kendati setiap delegasi membawa identitas budaya masing-masing, namun semua tetap menyatu dalam semangat pertukaran budaya.
Bobot intelektual acara juga ditingkatkan melalui Konferensi International Indonesian Mask Organization (IMO) Forum ini menjadi ruang dialog mengenai sejarah, pelestarian, hingga peluang kolaborasi dunia terhadap seni topeng.
International Mask Festival 2025ditutup dengan sesi foto bersama delegaso dan penyerahan sertifikat, setelah sebelumnya parade topeng terlebih dahulu. Dengan berbagai kegiatan yang terselenggara lancar dan antusiasme pengunjung tinggi, International Mask Festival kembali membuktikan posisinya sebagai festival budaya internasional berhasil mempertemukan tradisi lokal dengan kreativitas global dalam satu panggung perayaan seni. (Virgia)
