Ilustrasi (Foto: Pixabay/Parkineer)
SOLO, solotrust.com - Virus nipah kembali menjadi perhatian setelah dilaporkan muncul di India. Meski belum ditemukan di Indonesia, pola penularannya dinilai perlu dipahami masyarakat.
Dokter spesialis paru RSUD Dr Moewardi Solo, Jatu Aphridasari, menyebut virus ini berasal dari kelelawar yang berperan sebagai reservoir alami. Hewan tersebut dapat membawa virus tanpa menunjukan gejala sakit.
“Virus keluar melalui liur, darah, atau kotoran kelelawar. Jika hewan lain atau manusia terpapar, maka infeksi bisa terjadi,” jelasnya.
Kasus pertama tercatat pada peternak babi di Malaysia pada 1998. Penularan terjadi karena kontak langsung dengan hewan terinfeksi. Selain itu, konsumsi buah yang telah tergigit kelelawar juga berisiko jika tidak dibersihkan dan dikupas dengan benar.
Penularan antara manusia dimungkinkan, namun umumnya terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh penderita. Berbeda dengan Covid-19 yang cepat menyebar melalui droplet, Nipah dinilai lebih terbatas dalam transmisi, namun dampaknya lebih berat. Virus ini menyerang otak dan dapat menembus blood brain barrier sehingga memicu gangguan saraf serius.
“Gejala yang perlu diwaspadai adalah demam tinggi disertai sakit kepala hebat, kejang, hingga penurunan kesadaran. Jika ada riwayat kontak risiko segera periksa ke fasilitas kesehatan,” ujar dr. Jatu Aphridasari.
Ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan higienitas, mencuci buah sebelum dikonsumsi, menghindari makanan mentah, serta menjaga kebersihan tangan.
“Kita tidak bisa mengendalikan semua faktor lingkungan, tetapi bisa mengendalikan perilaku kita sendiri,” kata dr. Jatu Aphridasari.
Menurutnya, kewaspadaan rasional lebih penting daripada kepanikan massal yang justru dapat memicu disinformasi. (Anastasya Zefanya)
