Suasana duka atas meninggalnya siswa sekolah dasar (SD) berusia sepuluh tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga mengakhiri hidup karena ketidakmampuan keluarga membeli buku dan pena. (Foto: kemensos.go.id)

BEKASI, solotrust.com - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf turut berduka atas meninggalnya siswa sekolah dasar (SD) berusia sepuluh tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga mengakhiri hidup karena ketidakmampuan keluarga membeli buku dan pena.

“Pertama tentu kita prihatin, tentu kita ikut berbuka. Tim kita juga sedang berada di sana (Ngada) untuk melakukan asesmen,” kata Saifullah Yusuf, usai menghadiri acara Sinkronisasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik) 66 titik Sekolah Rakyat Tahap 1C di Hotel Grand Travello Bekasi, Rabu (04/02/2026), dilansir dari laman resmi Kementerian Sosial RI, kemensos.go.id.

Mensos menekankan, peristiwa itu menjadi pengingat pentingnya penguatan data yang akurat. Menurutnya, dengan data akurat, negara dapat memberikan perlindungan dan dukungan secara tepat kepada keluarga prasejahtera.

“Data akurat, semuanya bisa diberi perlindungan dan diberikan dukungan yang tepat. Jadi mudah-mudahan tidak terjadi lagi dan bisa kita mitigasi, kita bisa cegah hal-hal seperti ini ke depan,” kata Saifullah Yusuf.

Ia menjelaskan, penguatan data menjadi dasar berbagai program perlindungan sosial, termasuk Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi keluarga kurang mampu, terutama kelompok rentan selama ini belum terjangkau bantuan. Salah satunya melalui Inpres Nomor 5/2025 tentang Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

“Jadi pelan-pelan ini datanya tunggal, kita konsolidasikan terus, kita mutakhirkan. Insyaa Allah makin hari akan tambah akurat. Sekolah Rakyat sekali lagi ingin menjangkau keluarga-keluarga yang seperti itu. Kita harapkan ini menjadi pembelajaran buat kita semua,” kata Saifullah Yusuf.

Terkait kondisi keluarga korban, ia menyampaikan asesmen di lapangan masih berlangsung. Pemerintah juga membuka peluang dukungan pendidikan bagi anggota keluarga yang ditinggalkan.

“Sekarang (petugas Kemensos) ada di lapangan, lagi bicara sama orangtuanya dan masih berduka. Ada kakaknya yang akan kita coba untuk bisa bersekolah. Apakah di sekolah-sekolah dekat sana atau nanti di Sekolah Rakyat. Masih sedang asesmen di lapangan,” pungkas Saifullah Yusuf.

Kementerian Sosial (Kemensos) melalui Sentra Efata Kupang memberikan santunan dan bantuan dengan total Rp9 juta bagi keluarga korban. Santunan diberikan sebesar Rp5 juta, bantuan sembako dan nutrisi dengan nominal Rp1,5 juta serta dukungan bantuan sandang sebesar Rp2,5 juta. Adapun kedua kakak korban akan diberikan bantuan dukungan belajar keterampilan dan diupayakan untuk dapat bersekolah kembali. 

Sebelumnya, siswa sekolah dasar yang meninggal bunuh diri sempat meninggalkan sepucuk surat ditujukan kepada ibunya. Surat itu berisi pesan perpisahan kepada sang ibu.

Korban diketahui tinggal bersama nenek. Sementara itu, ibunya merupakan orangtua tunggal bekerja sebagai petani dan kerja serabutan untuk menghidupi lima orang anak, termasuk korban.