Penari Bedhaya Anglir Mendhung warnai puncak Tingalan Jumenengan ke-4 Mangkunegara X di Pura Mangkunegaran, Selasa (27/01/2028). (Dok. TATV)

SOLO, solotrust.com - Tari Bedhaya Anglir Mendhung menjadi bagian paling sakral dalam rangkaian Tingalan Jumenengan keempat KGPAA Mangkunegara X yang digelar di Pura Mangkunegaran, Selasa (27/01/2026). Tarian pusaka ini dipentaskan sebagai puncak prosesi peringatan kenaikan takhta Mangkunegara X.

Bedhaya Anglir Mendhung tidak sekadar ditampilkan sebagai pertunjukan seni, melainkan mengandung nilai sejarah dan spiritual kuat. Setiap ragam geraknya merefleksikan ajaran kepemimpinan, keteguhan, serta perjuangan yang menjadi landasan berdirinya Kadipaten Mangkunegaran.

Tari Bedhaya Anglir Mendhung merupakan tarian sakral yang hanya dipentaskan dalam prosesi Tingalan Jumenengan. Tarian ini dibawakan tujuh penari putri dan menjadi salah satu pusaka penting Pura Mangkunegaran.

Kisah diangkat dalam tarian tersebut menggambarkan perjuangan KGPAA Mangkunegara I sebagai pendiri Kadipaten Mangkunegaran. Nilai keberanian, kebijaksanaan, dan kepemimpinan tersirat dalam setiap gerak disajikan dengan kelembutan, namun sarat makna.

Sebelum pementasan dimulai, para penari duduk bersila menghadap KGPAA Mangkunegara X sebagai simbol penghormatan. Pementasan Bedhaya Anglir Mendhung juga dilaksanakan melalui tata cara dan ritual ketat. Para penari diwajibkan menjalani sejumlah laku spiritual guna menjaga kesakralan tarian.

Rangkain ritual itu meliputi puasa, meditasi, serta ziarah ke sejumlah situs spiritual, antara lain Astana Mangadheg, Astana Girilayu, dan Astana Oetara. Seluruh proses ini dilakukan untuk menjaga kemurnian nilai spiritual yang melekat pada tari pusaka Mangkunegaran. (Mutiara/Arien)