Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta resmi membuka pameran Solo Internasional Visual Art (SIVA) #5 dengan tema Archive of the Machine di Gedung Sungsing Prabangkara, Jebres. Acara ini berlangsung pada 18 hingga 21 November 2025. (Foto: Dok. solotrust.com/Shintia Maharani)

SOLO, solotrust.com - Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta resmi membuka pameran Solo Internasional Visual Art (SIVA) #5 dengan tema Archive of the Machine di Gedung Sungsing Prabangkara, Jebres. Kegiatan ini diselenggarakan Program Studi (Prodi) Seni Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain sebagai ruang pertemuan seniman lintas negara untuk menampilkan karya visual kontemporer berbasis eksplorasi teknologi dan arsip mekanis.

Pameran dibuka langsung Rektor ISI Surakarta berlangsung pada 18 hingga 21 November 2025, pukul 09.30 sampai 16.00 WIB. Agenda pembukaan dimulai pukul 09.30 WIB dan dihadiri sivitas akademika, kurator, serta tamu undangan dari dalam maupun luar negeri. Panitia menegaskan tema tahun ini dipilih untuk mendorong dialog antara manusia, mesin, dan perkembangan estetika digital yang semakin relevan di era modern.

Selain pameran karya, acara ini juga menghadirkan dua pertunjukan spesial. Penampilan ‘Serpell 22’ dari Jerman oleh Susana Miranti Kroeber dengan musik Yasudah menjadi salah satu sajian internasional menarik perhatian. Sementara itu, kelompok The Archive dari Indonesia yang merupakan bagian dari Prodi Seni Tari ISI Surakarta, turut menampilkan komposisi tari bertema arsip gerak dan respons tubuh terhadap teknologi.

Menurut panitia, Savina Dela, tujuan utama penyelenggaraan pameran ini adalah menampung seniman dari luar negeri, sekaligus memperkenalkan kampus secara lebih luas melalui open art exhibition.

"Tujuan utamanya untuk menampung berbagai seniman dari luar negeri dan membuat kampus kami dikenal melalui open art exhibition ini. Kami ingin orang-orang luar bisa memamerkan karyanya lewat kampus ini, mirip seperti adanya international art camp di UNS. Kami berusaha memaksimalkan kreativitas melalui join dengan luar negeri," jelasnya.

Savina Dela juga mengungkapkan bagaimana cara menghubungi ke luar negeri jika terdapat event pameran ini.

"Itu melalui dua cara utama. Pertama, kami melakukan open submission dengan membuat postingan untuk siapa yang mau ikut, namun media kami belum sepenuhnya memadai untuk menjangkau mereka. Oleh karena itu, cara kedua adalah dengan memanfaatkan relasi antara dosen dengan seniman-seniman di luar. Jadi, ada open submission dan ada undangan. Setiap seniman diundang secara pribadi oleh panitia maupun dosen yang terlibat dalam acara ini," jabarnya.

Tim kurator terdiri atas Muhammad Hendra Himawan dari Indonesia dan Puan Siti Shahida binti Kamel dari Malaysia. Menurut kurator, pameran ini memberikan kesempatan bagi para seniman untuk menelusuri kembali hubungan antara mesin dan proses kreatif melalui pendekatan visual yang segar.

Pameran ini juga menjadi bentuk apresiasi terhadap perkembangan seni rupa di tingkat global, sekaligus membuka peluang riset kreatif bagi mahasiswa ISI Surakarta. Menghadirkan dialog budaya dan teknologi, SIVA #5 diharapkan mampu memperluas jejaring seniman muda serta memperkaya dinamika pertukaran gagasan di kancah internasional. Acara ini menjadi agenda penting bagi komunitas seni lokal dan regional.

*) Reporter: Annisa Luthfi Afifah/Shintia Maharani