Selasa , 7 April 2020

Dreamcatcher Ingin Ubah Distopia Menjadi Utopia

21 Februari 2020 05:03 WIB


Dreamcatcher dalam salah satu foto konsep album "Dystopia: Tree of Language" (Gambar: Instagram Dreamcatcher @hf_dreamcatcher)


Solotrust.com - Dreamcatcher merilis album terbarunya “Dystopia: Tree of Language" pada 18 Februari 2020. Dalam wawancara girlgroup itu dengan JoongAng Daily yang diunggah pada 20 Februari, diketahui bahwa dalam karyanya ini mereka ingin mengubah distopia menjadi utopia.



"Dystopia" adalah era baru setelah seri album "Nightmare", yang mereka rilis dalam 3 tahun sebelumnya. Dalam album penuh pertamanya ini,  anggota-anggotanya turut serta dalam pembuatan lagu bahkan koreografi.

Jika dalam "Nightmare" para anggota Dreamcatcher berperan sebagai 7 peri yang menjaga kita dari mimpi buruk, maka dalam "Dystopia" mereka ingin melindungi kita dari hal-hal yang bisa menyakiti dalam kehidupan nyata.

“Dystopia” dikatakan akan menjadi proyek tiga bagian, yang akan menyentuh hal-hal yang membuat dunia kita menjadi distopia, dengan harapan mengubahnya menjadi utopia.

“Dalam alur cerita baru ini, ada pohon yang menumbuhkan buah putih yang enak ketika mendengar hal-hal baik dan menumbuhkan buah hitam ketika mendengar hal-hal buruk," kata JiU, salah satu anggota Dreamcatcher.

"Jadi di dunia yang diganggu oleh bahasa yang gelap dan menyakitkan, kami adalah nimfa dari pohon yang melindunginya. Ini adalah cerita fiksi, tetapi ada faktor di sana sini yang akan membuat Anda berpikir bahwa hal-hal itu terjadi dalam kehidupan nyata," lanjutnya.

Sama seperti pohon tersebut, girlgroup ini juga dipengaruhi oleh bahasa yang didengarnya, terlepas dari upaya mereka untuk tidak mendengarkan pesan-pesan kebencian yang menjatuhkannya.

Meskipun metafora "bahasa yang buruk" bukan ditujukan langsung pada ujaran kebencian di media sosial, namun metafora itu selaras dengan grup.

"Aku mengatakan pada diriku sendiri untuk tidak peduli dengan komentar negatif, tetapi mereka kembali pada titik tertentu dan tetap ada di kepalamu," kata Yoohyeon.

Dalam wawancara itu Dreamcatcher juga berbagi tujuan mereka sebagai grup, dengan mengatakan bahwa jika dulu mereka ingin terkenal dan menjadi bintang besar, kini mereka hanya akan melakukan apa yang mereka bisa untuk orang-orang yang mencintai mereka.

"Saya benar-benar senang ketika orang mengatakan, 'Terima kasih sudah bernyanyi.' Saya berterima kasih lebih banyak kepada mereka karena mendengarkan, tetapi mendengar itu membuat saya merasa sangat puas," kata Siyeon.

JiU mengatakan, "Mendengar hal-hal seperti, 'Terima kasih telah menjadi penyanyi saya' dan 'Terima kasih telah menjadi Dreamcatcher', itulah yang membuat saya terus berjalan," kata JiU.

Begitu dirilis, album dengan title track "Scream" itu juga berhasil memuncaki chart album Itunes di berbagai negara seperti Malaysia, Argetina, Portugal dan Norwegia. (Lin)

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com