Selasa , 13 April 2021

Unik! Keluarga Ini Tak Memiliki Sidik Jari

26 Desember 2020 11:25 WIB


Apu Sarker menunjukkan telapak tangannya yang halus tanpa sidik jari (Foto: BBC)

Solotrust.com - Apu Sarker menunjukkan telapak tangannya melalui video call dari tempat tinggalnya di Bangladesh. Awalnya tak ada yang tampak aneh, namun saat diamati lebih dekat terlihat permukaan halus dari ujung jarinya.

Apu, seorang pemuda 22 tahun, tinggal bersama keluarganya di sebuah desa di distrik Utara Natore. Dia saat ini bekerja sebagai asisten medis, sedangkan ayah dan kakeknya adalah seorang petani.



Laki-laki di keluarga Apu tampaknya mewarisi mutasi genetik sangat langka, di mana mereka tidak memiliki sidik jari. Kasus semacam ini diperkirakan hanya sedikit terjadi di dunia.

Tidak memiliki sidik jari bagi keluarga Apu bukanlah masalah besar.

"Menurutku dia (kakek) tidak pernah menganggapnya sebagai masalah," kata Apu, dikutip dari BBC, Sabtu (26/12/2020).

Namun selama beberapa dekade terakhir, alur kecil yang terbentuk di sekitar ujung jari kita atau lebih dikenal sebagai dermatoglyph telah menjadi data biometrik paling banyak digunakan di dunia. Sidik jari kini banyak digunakan dalam berbagai hal, mulai dari melewati bandara hingga untuk membuka ponsel pintar.

Pada 2008, saat Apu masih belia, Bangladesh memperkenalkan kartu ID Nasional untuk orang dewasa, dan database membutuhkan cap jempol. Para petugas pun sempat dibuat bingung lantaran tak tahu bagaimana cara mengeluarkan kartu untuk ayah Apu, Amal Sarker. Akhirnya, dia menerima sebuah kartu dengan tanda khusus bertuliskan "Tanpa Sidik Jari".

Pada 2010, sidik jari menjadi wajib untuk kepemilikan paspor dan SIM. Setelah beberapa kali mencoba, Amal bisa mendapatkan paspor dengan menunjukkan surat keterangan dari petugas medis.

Kendati demikian, dia tidak pernah menggunakannya karena takut akan timbul masalah saat di bandara. Sementara untuk SIM, meskipun mengendarai sepeda motor sangat penting untuk pekerjaan bertani, namun dia juga tidak pernah mendapatkannya.

“Saya sudah bayar biayanya, lulus ujian, tapi mereka tidak mengeluarkan izin karena saya tidak bisa memberikan sidik jari,” ujarnya.

Alhasil, saat berkendara Amal hanya bisa membawa tanda terima pembayaran biaya lisensi, namun itu tak selalu bisa membantunya saat ada operasi lalu lintas. Bahkan, dia telah didenda dua kali karena tidak memegang SIM. Amal sejatinya sudah menjelaskan kondisinya kepada petugas kepolisian sambil menunjukkan ujung jari tangannya yang halus, namun hal itu tetap saja tak bisa membebaskannya dari denda.

"Ini selalu menjadi pengalaman yang memalukan bagiku," kata Amal.

Pada 2016, pemerintah mewajibkan mencocokkan sidik jari dengan database nasional untuk pembelian kartu SIM ponsel.

“Mereka terlihat bingung ketika saya membeli SIM. Software mereka terus saja tak bereaksi setiap kali saya meletakkan jari saya di sensor,” kata Apu sambil tersenyum masam.

Apu pun akhirnya menolak membeli SIM tersebut, dan semua laki-laki dari keluarganya sekarang menggunakan kartu SIM yang dikeluarkan atas nama ibunya.

Kondisi langka yang mungkin menimpa keluarga Sarker disebut Adermatoglyphia. Kasus semacam ini kali pertama dikenal luas pada 2007 ketika Peter Itin, seorang dokter kulit Swiss, dihubungi seorang wanita yang mengalami kesulitan memasuki AS. Wajahnya cocok dengan foto di paspornya, namun petugas Bea Cukai tidak dapat merekam sidik jari karena dia tidak memilikinya.

Setelah pemeriksaan, profesor Itin menemukan wanita tersebut dan delapan anggota keluarganya memiliki kondisi aneh yang sama. Bantalan jari rata dan kelenjar keringat di tangan berkurang. Bekerja dengan dokter kulit lain, Eli Sprecher, dan mahasiswa pascasarjana Janna Nousbeck, profesor Itin melihat DNA dari 16 anggota keluarga di mana tujuh di antaranya memiliki sidik jari, sementara sembilan lainnya tanpa sidik jari.

"Kasus ini sangat jarang terjadi, dan tidak lebih dari beberapa keluarga," kata Prof Itin kepada BBC.

Pada 2011, para peneliti menemukan satu gen, SMARCAD1 yang bermutasi pada sembilan anggota keluarga, mengidentifikasinya sebagai penyebab penyakit langka tersebut. Nyaris tak ada yang diketahui tentang gen tersebut pada saat itu. Mutasi tersebut tampaknya tidak menimbulkan efek kesehatan serius, selain dari efek pada tangan. (and)

(redaksi)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com