Pelantikan Rektor Universitas Boyolali Masa Bakti 2026-2030

BOYOLALI, solotrust.com - Forum Civitas Akademika Universitas Boyolali (UBY) menyatakan mogok kerja mulai 26 Februari 2026. Aksi itu dilakukan sebagai bentuk protes dan tuntutan peninjauan kembali proses pengangkatan rektor periode 2026–2030.
 
Keputusan mogok kerja diambil setelah aspirasi dan rekomendasi senat Universitas Boyolali dinilai tak diindahkan dalam proses pengambilan keputusan penetapan rektor.
 
Sejumlah dosen menyebut rekomendasi senat telah disusun berdasarkan paparan visi, misi, serta program kerja dari kedua calon rektor yang disampaikan dalam forum resmi. Dekan Fakultas Komunikasi dan Teknologi Informasi (FKTI) UBY, Topan Setiawan, menyatakan rekomendasi yang diberikan senat berdasarkan daya nalar kuat dan telah melalui proses mendengarkan serta mencermati paparan visi dan misi kedua calon. 
 
"Namun suara tersebut seolah tidak berkontribusi signifikan dalam keputusan akhir,” ungkapnya kepada wartawan, Kamis (26/02/2026).
 
Topan Setiawan menilai, pengabaian rekomendasi senat menjadi kurang baik dalam tata kelola perguruan tinggi. Ia menegaskan, aksi mogok kerja bukan karena tak mencintai kampus, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan institusi.
 
Dalam aksi mogok ini, para dosen menyatakan tidak akan menjalankan Tri Darma Perguruan Tinggi, baik kegiatan pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada sejumlah agenda strategis kampus.
 
Salah satunya proses akreditasi Fakultas Komunikasi dan Teknologi Informasi dijadwalkan berlangsung pada Mei mendatang. Selain itu, masa akreditasi Program Studi Ilmu Komunikasi juga akan berakhir pada 2027.
 
“Kalau dosen mogok dan tidak menjalankan Tri Darma tentu akan banyak pekerjaan rumah, termasuk akreditasi yang sudah di depan mata,” kata Topan Setiawan.
 
Tak hanya itu, sejumlah kerja sama telah dirintis juga terancam tertunda, di antaranya kolaborasi dengan Kebun Raya Indrokilo. Selain itu, tambah dosen UBY, Wahyuning Chumaeison, ada rencana studi banding atau benchmarking ke perguruan tinggi di luar negeri, termasuk universitas di Malaysia.
 
“Program studi banding tersebut juga terancam tidak terealisasi karena harus berkoordinasi dengan wali murid,” ucapnya . 
 
Menurut Wahyuning Chumaeison, seluruh dosen cinta UBY, namun justru senior Universitas Boyolali sepertinya tidak mencintai masa depan kampus. 
 
"Apabila para senior itu dikatakan cinta UBY, namun justru membuat cinta yang kontra produktif," bilangnya. 
 
Forum civitas akademika juga menyoroti mundurnya wakil rektor dua atau pejabat struktural di bidang sumber daya manusia (SDM) dan keuangan. Pengunduran diri ini dinilai menjadi sinyal adanya persoalan serius di tingkat manajemen puncak kampus.
 
“Kalau di ring satu kekuasaan saja sudah ada yang mengundurkan diri tentu ini menjadi pertanyaan besar. Ada sesuatu yang perlu dibenahi di tubuh manajemen universitas,” sebut Wahyuning Chumaeison.
 
Adapun hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak yayasan maupun rektor terpilih terkait tuntutan peninjauan pengangkatan tersebut. (jaka)