Aksi bakti sosial peduli sesama.
SUKOHARJO, solotrust.com – Aroma antiseptik yang biasanya mendominasi area pemeriksaan medis kali ini kalah oleh kehangatan senyum warga yang memadati basecamp Sanggar Seniman Satu Jiwa (SESAJI). Di desa Triyagan, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo—sebuah wilayah yang menjadi sekat pembatas dengan Kabupaten Karanganyar—seni sedang tidak dipentaskan di atas panggung megah dengan lampu sorot. Kali ini, seni mewujud dalam bentuk yang paling murni: kepedulian antarmanusia.
​Sebuah kolaborasi apik tercipta ketika para seniman yang tergabung dalam SESAJI bergandengan tangan dengan Yayasan Tangan Baik Solo Raya (TBSR), PMI Sukoharjo, dan Puskesmas Mojolaban. Mereka menggelar aksi bakti sosial peduli sesama. Bukan sekadar membagikan paket sembako, ratusan warga yang hadir juga berbondong-bondong memeriksakan kesehatan secara gratis serta mendonorkan darah mereka.
​Bagi SESAJI, aksi ini merupakan cara mereka memaknai ruang dan waktu. Koordinator kegiatan sekaligus pembina SESAJI, Edi mengungkapkan, acara ini sengaja digelar untuk memperingati dua momen besar sekaligus, yaitu Hari PMI Internasional (8 Mei) dan menyambut Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni mendatang.
​"Berbeda dari biasanya, kali ini kami berkolaborasi dengan Yayasan Tangan Baik Solo Raya. Kami juga dibantu oleh PMI dan Puskesmas Mojolaban," ujar Edi dengan mata berbinar.
​Bagi Edi dan kawan-kawan seniman, momen historis tidak boleh berlalu begitu saja sebagai seremonial belaka. Harus ada pemantik nyata untuk membangun kembali semangat kebersamaan. Terbukti, layanan kesehatan gratis dan donor darah ini menjadi oase yang sudah lama dinantikan oleh warga perbatasan.
​Akses kesehatan terkadang terasa jauh bagi sebagian masyarakat. Menyadari kendala tersebut, kolaborasi ini hadir dengan konsep jemput bola—membawa layanan medis langsung ke tengah-tengah pemukiman warga.
​Pembina TBSR, Rus S. Sumanto, menyebut sinergisitas antara seniman, yayasan sosial, dan instansi kesehatan ini sebagai langkah yang sangat efektif untuk mendongkrak derajat kesehatan masyarakat.
​"Di beberapa wilayah, kami memang selalu membuka diri untuk berkolaborasi dengan semua stakeholder, termasuk PMI dan Puskesmas yang menjadi ujung tombak kesehatan," tutur Rus.
​Bagi Rus, kepedulian tidak boleh disekat oleh dinding pembatas apa pun.
​"Kuncinya satu, peduli itu harus dibangun secara bersama-sama. Peduli tidak melihat status sosial, juga tidak melihat agama. Intinya, mari bergerak bersama untuk bermanfaat pada sesama," ajaknya penuh semangat.
​Langkah nyata para seniman dan relawan ini pun mendapat apresiasi hangat. Ketua PMI Sukoharjo, Kunari Mahanani, mengaku sangat terbantu dengan inisiatif mandiri yang lahir dari akar rumput seperti ini. PMI, menurutnya, tidak akan bisa berjalan sendirian tanpa detak kepedulian dari masyarakat itu sendiri.
​"Banyaknya undangan kegiatan dari masyarakat seperti ini menunjukkan bahwa warga Sukoharjo memiliki empati dan kepedulian yang sangat tinggi," ungkap Kunari.
​Ia berharap gerakan ini tidak berhenti sebagai aksi sesaat, melainkan menjadi pemantik kolaborasi jangka panjang. Pintu PMI selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin melangkah bersama dalam misi kemanusiaan. (nas)
