Jumat , 3 April 2020

Beri Penghormatan Terakhir, Rudy: Mbah Prapto Panutan Dunia Tari

31 Desember 2019 09:31 WIB


Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo saat memberikan pengormatan terakhir bagi mendiang Suprapto Suryodarmo di Pendopo TBJT, Jebres, Solo, Senin (30/12/2019)

SOLO, solotrust.com - Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo memberikan penghormatan terakhir bagi mendiang maestro seni Suprapto Suryodarmo yang tutup usia pada 74 tahun, Minggu (29/12/2019) kemarin.

Penghormatan terakhir dilakukan di Pendopo Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Jebres, Solo, Senin (30/12/2019). Sekira pukul 11.00 WIB, Rudy hadir didampingi Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo. Bagi wali kota, sosok yang akrab dikenal dengan sebutan Mbah Prapto itu merupakan panutan dalam dunia seni tari.



Mbah Prapto merupakan sosok maestro fenomenal, jejak karyanya pun sudah mendunia, kontribusinya bagi seni dan budaya di Kota Solo tak perlu ditanyakan lagi. Almarhum merupakan seniman beragama Budha, pendiri Padepokan Lemah Putih. Semasa hidupnya, Mbah Prapto pernah menanyakan kepada Rudy soal Ndalem Joyokusuman.

"Ndalem Joyokusuman meh mbok dadekne opo to (mau Anda jadikan apa-red) Rud? Sebelum jatuh sakit beliau pernah tanya itu ke saya," ungkap Rudy.

Rudy pun menjawab, Ndalem Joyokusuman dimanfaatkan pemerintah kota (Pemkot) sebagai pusat pengembangan seni dan budaya.

"Saya sampaikan Ndalem Joyokusuman tidak hanya sebatas ruang publik dan sebagai seni pertunjukan pada umumnya, tetapi juga akan berfungsi sebagai pusat studi budaya dan arsitektur Jawa," bebernya.

Sementara itu, salah satu anak Mbah Prapto, Melati Suryodarmo mengatakan Mbah Prapto meninggal dunia Minggu (29/12/2019) dini hari pukul 01.55 WIB setelah mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Dr Oen Kandangsapi. Tak hanya keluarga, kabar itu pun sontak menjadi duka mendalam bagi seluruh seniman dan budayawan, khususnya di Kota Bengawan.

“Bapak tidak pernah pengin diketahui kalau beliau sakit. Bapak pulang dipanggil Tuhan dengan damai, kondisinya semangat, tapi terus kadang ambruk lagi. Bapak sosok yang suka merangkul, berbagi, keingin tahuannya besar, sengkuyung, semangatnya tidak pernah merasa tua. Terakhir pengin nyoba ngajar workshop pakai internet gitu. Pesan dari bapak yang paling sering terlontar alon-alon ojo kemrungsung (pelan-pelan jangan terburu-buru-red),” ungkap Melati.

Setelah dilakukan penghormatan terakhir dan upacara keagamaan Budha di TBJT, jenazah dikremasi di Krematorium Delingan, Kabupaten Karanganyar. Sebelumnya jenazah disemayamkan di rumah duka Thiong Ting, Jebres. (adr)

(redaksi)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com