Rabu , 25 November 2020

Sastrawan Ternama Sapardi Djoko Damono Berpulang

20 Juli 2020 12:06 WIB


Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono

 

 “ Pada suatu hari nanti



jasadku tak akan ada lagi

tapi dalam bait – bait sajak ini

kau tak akan ku relakan sendiri

Pada suatu hari nanti

Suaraku tak terdengar lagi

tapi diantara larik – larik sajak ini kau akan tetap ku siasati.”

 

Itulah bunyi penggalan sajak karya Sapardi Djoko Damono dengan judul Pada Suatu Hari Nanti.

Sebuah sajak indah yang menggambarkan tentang sebuah keterpisahan jiwa raga seseorang dengan orang – orang yang dicintainya. Meski begitu ia meninggalkan keabadian dalam rupa tulisan – tulisan sajaknya untuk menemani orang – orang yang dikasihi. Mungkin itulah yang ingin disampaikan oleh Sapardi ketika menciptakan sebuah sajak Pada Suatu Hari Nanti yang pada akhirnya makin berasa selepas kepergiannya.

Prof.Dr.Sapardi Djoko Damono atau juga dikenal dengan nama SDD merupakan seorang sastrawan besar tanah air meninggal dunia pada Minggu (19/7/2020) pukul 09.17 WIB di Eka Hospital BSD Tangerang Selatan. Sapardi meninggal di usia 80 tahun karena penyakit kompilkasi dan sudah semenjak awal Juli 2020, Sapardi di rawat di rumah sakit Eka Hospital BSD Tangerang Selatan.

Selama hidupnya, penyair kelahiran Solo 20 Maret 1940 ini telah melahirkan puluhan karya mulai dari puisi, cerpen, esai hingga buku dan novel. Karya puisinya yang paling populer dan dikenal pleh banyak kalangan ialah puisi Aku Ingin dan juga Hujan Bulan Juni. Dua puisi tersebut semakin terekam kuat banyak kalangan setelah dialihkan menjadi musikalisasi puisi oleh duet Arie dan Reda.

Menurut beberapa sumber yang berhasil dirangkum, Sapardi Djoko Damono lahir di kampung Baturono Solo dan sempat berpindah-pindah rumah di beberapa kawasan Kota Solo. Sapardi remaja sering dan rajin untuk dating ke tempat buku – buku persewaan hingga dirinya menemukan sebuah buku karya W.S Rendra berjudul ‘Balada Orang – Orang Tercinta’. Dari Rendra, Sapardi belajar bahwa menulis sajak atau puisi itu sederhana dan tidak rumit. Selain itu dirinya juga terkesan dengan sebuah novel karya T.S Elliot yang berjudul ‘Murder in the Cathedral'.

Tumbuh dan sempat tinggal di Kota Solo sebelum berhijrah di Jakarta membentuk karakter kuat budaya Jawa dalam diri Sapardi hingga sebuah karya berbentuk buku hadir di ujung senja nafas Sapardi yang berjudul Mantra Orang Jawa.

Semasa hidupnya Sapardi pernah meraih penghargaan diantaranya SEA Write Award. Selain itu Sapardi juga pernah meraih penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Dan Sapardi juga adalah seorang pendiri Yayasan Lontar.

Sapardi dimakamkan di Taman Pemakaman Giritama Giri Tonjong Bogor seusai Bakda Ashar dan hanya dihadiri oleh pihak keluarga serta kerabat dekat yang memang sengaja membatasi kehadiran para pelayat, berhubung masih adanya pandemic corona.

Sebuah penggalan sajak karya Sapardi muncul di beranda – beranda media sosial pada hari Minggu (19/7/2020) untuk mengantar keupulangannya menuju kedamaian kekal,

“ Yang fana adalah waktu, kita abadi..” demikianlah bunyi penggalan salah satu sajak karya Sapardi.

Selamat jalan sastrawan besar Indonesia.. (dd)



(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com