Selasa , 24 November 2020

Ternyata Kampung Kemlayan Dahulunya Tempat Tinggal Pengrawit

31 Agustus 2020 19:57 WIB


Heri Priyatmoko (kiri), Fafa G.Utami (moderator, tengah) Prof. Sardono W. Kusumo (kanan) di Mas Don Art Center Jumat (28/8/2020).

Solotrust.com- "Kemlayan itu asal katanya dari Bahasa Sansekerta, yakni Laya yang artinya dari dalam musik atau irama yang dihasilkan dari dalam." cerita maestro tari Sardono W. Kusumo pada Jumat (28/8/2020) di Mas Don Art Center dalam acara Diskusi Agenda Strategis Kota 'Sejarah, Budaya & Identitas Kota' mengenai kampung Kemlayan, yang dahulunya merupakan kampung yang banyak dihuni oleh para pengrawit dari Keraton Kasunanan Surakarta dan sering terdengar gending gamelan Jawa mengalun.

Dalam acara diskusi yang berlangsung cukup santai dan intim tersebut juga hadir Sejarawan Kota Solo, Heri Priyatmoko. Heri yang mengambil tesis tentang Kampung Kemlayan juga menceritakan bahwa pada zaman dahulu tercipta hingga ribuan gending gamelan Jawa dari para pengrawit gamelan. Mereka biasanya dulu saling berlomba secara positif satu sama lain sehingga ada istilah kupu tarung.



"Dulu ada istilah kupu tarung, yakni adu kreatifitas antar niaga. Jadi jika mereka ada waktu senggang maka berkunjung ke tetangganya dan melakukan adu kreatifitas antar sesama niaga." papar Heri Priyatmoko yang juga aktif di Solo Societeit ini menjelaskan.

Heri menambahkan jika Kampung Kemlayan merupakan sebuah kampung yang unik karena namanya hanya ada di Solo, berbeda dengan nama kampung lainnya seperti Kauman, Kepatihan yang notabenya  di Jogja juga ada nama kampung yang sama.

Heri juga mengatakan bahwa di kampung Kemlayan sendiri pada zaman dahulu sudah ada sistem management yang diciptakan. Sehingga bayaran untuk setiap niaga berbeda-beda, tergantung tingkatannya dan setiap niaga sadar akan kemampuannya.

Heri kemudian mengungkapkan bahwa Kemlayan merupakan kampung yang banyak dihuni oleh para penggiat seni, yang ada di Keraton Kasunanan Surakarta pada zaman dahulunya, maka akan sangat tabu apabila tidak bisa joged dan juga nabuh gamelan.

Sardono yang sudah melanglang buana dan kenyang akan asam garam kesenian, kemudian menyoroti tentang laku manusia yang disiplin bisa menghasilkan jenis karya seni yang mumpuni dan bisa untuk pegangan hidup di kemudian hari.

Ia juga mengatakan bahwa seseorang yang ingin mencipta tidak hanya duduk membaca saja, meski hal tersebut juga merupakan sebuah hal penting, tapi juga benar-benar mengalami sehingga tubuh pun juga ikut bergerak dan merekam apa yang dilakukannya. (dd)

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com